Rabu, 29 Juni 2011

Pendekatan dan Model Pembelajaran

Strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

A. Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) Exposition-Discovery Learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

B. Berkenaan dengan model pembelajaran,

Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Kalimat Cinta Penuh Makna

Kata cinta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan wakil dari perasaan kasih, sayang, atau rindu yang sangat dalam. Namun dalam konteks atau kadar kalimat tertentu, ia bisa juga mewakili perasaan sedih.

Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:

Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.

Namun demikian, cinta pun bisa menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.

Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.

Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)

Kata-kata mutiara tentang cinta

Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Hamka

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

Hamka

Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.

Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.

Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.

Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Ali bin Abi Thalib

Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.

A’idh Al-Qorni

Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada pembacanya.

Kalimat Penuh Makna

* Ada dua perkara yang jika Anda Amalkan, Anda akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat: Menerima sesuatu yang tidak Anda sukai, jika sesuatu itu disukai Allah. Dan membenci sesuatu yang Anda sukai, jika sesuatu itu dibenci oleh Allah.”
(Abu Hazim)
* Ada enam perkara, apabila dimiliki oleh seseorang maka telah sempurnalah keimanannya : (1) memerangi musuh Allah dengan pedang, (2) tetap menyempurnakan puasa walaupun di musim panas, (3) tetap menyempurnakan wudhu walaupun di musim dingin, (4) tetap bergegas menuju mesjid (untuk melaksanakan shalat berjama’ah) walaupun di saat mendung, (5) meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan walaupun ia tahu bahwa ia berada di pihak yang benar dan (6) bersabar saat ditimpa musibah.”
(Yahya bin Muadz)
* Ada tiga golongan orang yang paling menyesal pada hari kiamat : (1) orang yang memiliki budak ketika di dunia, ternyata pada hari kiamat budak tersebut memiliki prestasi amal yang lebih baik darinya, (2) orang yang mempunyai harta tetapi tidak mau bersedekah dengannya sampai ia meninggal dunia, kemudian harta tersebut diwarisi oleh orang yang memanfaatkan harta tersebut untuk bersedekah di jalan Allah, dan (3) orang yang mempunyai ilmu tetapi ia tidak mau mengambil manfaat dari ilmunya, lalu ilmu tersebut diketahui oleh orang lain yang mampu mengambil manfaat darinya.”
(Sufyan bin ‘Uyainah)
* Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.”
(HR Ibnu Majah)
* Aku belum pernah melihat orang yang paling lama bersedih daripada al-Hasan. Ia berkata, kita tertawa, sementara bisa jadi Allah yang telah melihat amal-amal yang telah kita perbuat berfirman, ‘Aku tidak mau menerima amal-amal kalian sedikitpun.’”
(Yunus bin ‘Ubaid)
* Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.”
(HR Abu Daud)
* Aku menangis bukan karena takut mati atau karena kecintaanku kepada dunia. Akan tetapi, yang membuatku menangis adalah kesedihanku karena aku tidak bisa lagi berpuasa dan shalat malam.”
(‘Amir bin ‘Abdi Qais)
* Aku tidak suka menjadi seorang pedagang budak. Akan tetapi, menjadi pedagang budak lebih aku sukai daripada aku menimbun bahan makanan sambil menunggu naiknya harga yang memberatkan sesama muslim.”
(Yazid bin Maisaroh)
* Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas tapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima kecuali jika dilakukan secara ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya adalah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam).”
(Fudhail bin ‘Iyadh)
* Apa pendapat Anda bila ada seseorang yang pakaiannya terkena air kencing, lalu ia hendak mensucikannya dengan air kencing pula? Mungkinkah air kencing itu dapat mensucikannya? Tentu saja tidak! Kotoran tidak dapat disucikan kecuali dengan sesuatu yang suci. Begitu pula halnya keburukan yang pernah kita lakukan, tidak akan dapat terhapus kecuali dengan memperbanyak melakukan kebaikan.”
(Sufyan ats-Tsauri)
* Apabila akhirat ada dalam hati, maka akan datanglah dunia menemaninya. Tapi apabila dunia ada di hati maka akhirat tidaklah akan menemaninya. Itu karena akhirat mulia dan dermawan, sedangkan dunia adalah hina”
(Abu Sulaiman Ad Daroni)
* Apabila Anda berharap agar Allah senantiasa menganugerahkan kepada Anda apa-apa yang Anda cintai dan sukai maka hendaklah Anda senantiasa menjaga dan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan disukai oleh Allah.”
(Salah seorang ahli hikmah)
* Apabila kalian senang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai kalian, maka tunaikanlah amanah kalian, dan benarlah jika berbicara, dan bertetanggalah dengan baik kepada tetangga kalian.”
(HR Imam Suyuthi)
* Ayahku pernah mengatakan bahwa apabila ‘Ali bin al-Husain selesai berwudhu dan telah bersiap untuk shalat, tubuhnya akan gemetar dan menggigil. Pernah ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ‘Ali bin al-Husain menjawab, ‘Celakalah Engkau! Tidakkah kau tahu, kepada siapa aku akan menghadap? Dan kepada siapa aku akan bermunajat?’”
(al-’Utaibi)

Semoga bermanfaat.

Active Learning

A. Pengertian Active Learning

Berdasarkan buku Active Learning (Melvin L. Silberman: 2009) yang dinamakan belajar yang aktif itu ialah yang setidaknya harus dapat melibatkan dan memperhatikan lima faktor utama yaitu: pengolahan kerja otak, gaya belajar, sosial proses belajar, kehawatiran tentang belajar aktif dan perlengkapan belajar aktif (sarana prasarana).

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa dalam uapaya menumbuhkan atau menciptakan belajar aktif itu ialah banyak hal yang perlu kita perhatikan dan persiapkan. dalam buku ini sangat detail dipaparkan mengenai langkah-langkah upaya untuk menciptakan suasana yang benar-benar tercipta belajar aktif, mulai dari tata letak menyusun kelas, cara agar mendapatkan partisipasi dari siswa (objek), cara agar mendapatkan mitra belajar, cara bagaimana agar dapat mengetahui harapan siswa, cara mengefektifkan siswa, strategi membuat kelompok, cara menyeleksi ketua, mempasilitasi ketika diskusi, seni peran, penghematan waktu penanganan jika keadaan sulit diatur atau terjadi suasana yang gaduh (ribut).

Jadi dapat disimpulkan aktif learnig itu ialah upaya menciptakan gaya dan pola belajar mengajar atau pola pembelajaran yang dapat melibatkan interaksi yang tidak haya searah antara murid dan siswa namun dapat terjalin secara keseluruhan dan guru tidak lagi sebagai yang mentransper ilmu melainkan sebagai kawan (pengarah) kegiatan pembelajaran tersebut. sehingga siswa tidak akan haya duduk tetapi bisa aktif dengan mau bertanya, mencari, mengomentari, bahkan menjelaskan menurut apa yang telah dia ketahui dan pahami.



B. Komponen-Komponen (Syarat) Active Learning

Sebagaimana telah diketahui pada bahasan awal bahwa kegiatan belajar aktif itu ialah yang banyak melibatkan elemen lain yang senantiasa akan membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman, aktif, kondusif sehingga teraarah.

Dari banyak faktor yang senantiasa mesti terlibat dalam pembelajaran agar tercipta belajar yang aktif, kurang lebih secara ringkasnya ternagi:

a. Individu siswa (sebagai objek) pembelajaran,

Dalam hal ini individu seorang murid itu merupakan hal yang paling dasar, sehinga harus benar-benar memiliki motovasi belajar yang kuat untuk ingin dan semangat belajar karena apapun dan sebesar bagaimanapun perhatian (pengaruh) dari luar jika tida didasari dengan semangat dari dalam dirinya siswa itu sendiri maka pembelajaran tidak akan aktif dan jauh kemungkinan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam hal ini faktor keluarga yang membverikan pelajaran utama sebelum di sekolah dan yang mencetak kearah mana diarahkanya seorang anak harus benar-benar fahan dan mampu memberikan arahan, bimbingan, dan melayani akan kemauan sang anaknya tersebut.

b. Guru sebagai dalang (sutra dara)

Guru sebagai dalang atau dapat dikatakan sutradara dalam pembelajaran aktif harus dapat menyajikan pelaksanaan proses pembelajaran sebagus dan semenarik mungkin, sehingga seorang guru harus benar-benar propesional dibidangnya itu baik secara kualifikasi mapun secara profesi dimana didalamnya harus faham mengenai psikologi anak, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan profesional seorang guru diantaranya harus mengetahui, metode, strategi, penbekatan, teknik dan taktik, dan yang lainya.

c. Proses (suasana) belajar

Proses atau suasana belajar ini berkaitan dengan kemampuan guru menguasai sussana dan memahami keadaan kelas ataupun kondisi murid itu sendiri agar dapat memilah dan memilih metode, media, taktik dan gaya belajay yang memang cocok dengan sussana atau kondisi tersebut. setelahnya faham mengenai hal itu, guru juga harus bisa menjalankannya dengan baik dan menyenakangkan mulai dari awal sampai bhelajar berakhir.

d. Sarana dan prasarana belajar

Dalam menciptakan kegiatan belajar yang aktif disini diutamakan sarana penunjang untuk kelancaran dan keefektipan belar tercapai, maka sega sesuatu yang memang dibutuhkan haruslah tersedia baik itu yang sifatnya indor ataupun out dor. Namun, jika masalahnya hal tersebut sebagai media yang dibutuhkan tidak ada maka disinilah dibutuhkan akan kekreatifan seorang guru agar dapat mengemas psembelajaran supaya tetap berjalan dengan kondusif dan aktif.



C. Waktu Pelaksanaan Active Learning

Kalau ditanya kapan pembelajaran aktif tersebut harus diciptakan? jawabanya ialah ketika terjadi suasan belajar atau ketika pembelajaran tidak aktif (statis) atau juga bisa disebut ketika kegiatan pembelajaran yang pasif.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa yang dinamakan kegiatan belajar atau pombelajaran dimanapun dan kapanpun itu idealnya mesti tercipta suasana belajar yang aktif terutama siswa sebagai objek dari pembelajaran tersebut. Namun, memang hal itu sangat sulit karena kebanyakan yang terjadi banyak guru yang kurang mampu menciptakan suasana yang aktif tersebut, sehingga pembelajaran itu berjalan monoton atau bahkan menurun. Kalau dilihat secara tahapan atau urutannya perlu dijaga agar senantiasa aktif itu ialah:

a) Sejak dimulai belajar,

Seorang guru diusahakan dapat merangsang siswa agar dapat aktif sejak awal. Mengapa demikian? karena jika sudah aktif sejak awal akan lebih mempermudah penyampaian materi selanjutnya akan terarah dengan baik dan memberikan warna semangat dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

Dalam bukunya Active Learning ini Melvin L. Silberman menjelaskan secara detail langkah-langkah dalam menciptakan suasana belajar siswa aktif sejak awal dimana secara garis besarnya terdiri dari tiga yaitu:

Ø Strategi pembentukan tim,

Ø Strategi penilaian sederhana, dan

Ø Strategi pelibatan belajar langsung.

Dimana ketiga langkah tadi memiliki cara-cara atau langkah-langkah masing-masing.

b) Ketika sedang berjalan (proses/tengah) waktu belajar

Sangat perlu sekali bagi seorang guru untuk dapat mengupayakan agar dapat merangsang siswa (anak didiknya) guna mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif dengan metode dan strategi yang bagaimanapun selagi dapat membantu lancarnya proses belajar dan pembelajaran.

Dalam upaya mewujudkan hal ini, setidaknya ada delapan lagkah yang mesti diperhatikan yaitu:

1. Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

2. Mengstimulasi diskusi kelas,

3. Pengajuan pertanyaan,

4. Belajar bersama,

5. Pengajaran sesame siswa,

6. Belajar secara sendiri,

7. Belajar yang efektif, dan

8. Pengembangan keterampilan.

Kedelapan langkah tadi memiliki langkah-langkah lain yang sifatnya lebih teknisi dan detail sebagai penjelasan dari kedelapan langkah tadi diatas.

c) Akhir dari pembelajaran,

Adapun yang dimaksud dengan belajar harus aktif pada akhir ialah bagaimana seorang guru mampu mengstimulus dan memberikan trik-trik agar apa yang telah disampaikan atau telah mereka pelajari itu tidak menjadi lupa kembali atau terlupakan oleh siswa tersebut.

Dalam kaitan dengan masalah ini, untuk dapat mempertahankan agar selalu teringat oleh siswa, Melvin L. Silberman membagi kedalam empat tahapan. Yaitu:

ü Strategi peninjauan kembali,

ü Penilaian sendiri,

ü Perencanaan masa depan, dan

ü Ucapan perpisahan.



D. Macam-Macam Active Learning

Sebagaimana yang terdapat dalam bukunya Melvin L. Silberman, dia mengemukakan bahwasanya ada 101 cara atau metode dalam mengupayakan pembelajaran atau siswa belajar dengan aktif. Namun, jika dikelompokan sesuai dengan isi dalam buku ini terbagi menjadi 15 yaitu:

1) Strategi pembentukan tim,

2) Strategi penilaian sederhana,

3) Strategi pelibatan langsung,

4) Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

5) Mengstimulasi diskusi kelas,

6) Pengajuan pertanyaan

7) Belajar bersama,

8) Pengajaran sesame siswa,

9) Be;lajar secara mandiri,

10) Belajar yang efektif,

11) Pengembangan keterampilan,

12) Strategi peninjauan kembali,

13) Penilaian sendiri,

14) Perencanaan masa depan,

15) Ucapan perpisahan.



E. Tujuan Active Learning

Tujuan dari cara belajar siswa aktif (Active Learning) ialah agar dapat menjadikan siswa aktif dan kondusif ketika belajar, terwujudnya suasana belajar yang dinamis, efektif, evesien serta jauh dari suasana yang menjenuhkan dan membosankan.

Jika dilihat dari pemaparan Melvin L. Silbermen, dalam bukunya ini, menjelaskan tujuan Active Learning kurang lebih sebagai berikut:

Ø Menjadikan siswa aktif sejak awal (mulainya pembelajaran)

Ø Membantu siswa mendapatkan pengajaran, keterampilan, dan sikap secara aktif

Ø Mempertahankan agar belajar tidak terlupakan.

Selain dari itu juga, dengan memodivikasi ungkapan konfusius, dia menjelaskan tujuan dari active learning ialah agar dapat mengingat, memahami, terampil dan menguasai.



F. Cara Menumbuhkan Active Learning

Jika dilihat dari tulisan yang terdapat dalam buku ini, pada dasarnya untuk menjadikan siswa aktif itu ialah siswa harus banyak mengerjakan tugas. Maka agar tecapai hal itu, ialah dengan banyak memberikan banyak tugas terhadap siswa. Lebih luasnya semua yang terdapat dalam isi buku ini yaitu ada 101 cara atau trik-trik agar dapat menumbuhkan belajar siswa yang aktif.

G. Kesimpulan

Dari makalah ini mengguar isi buku Active Learning karya Melvin L. Silbermen dapat disimpulkan bahwa Active Learning merupakan pola pembelajaran yang harus dapat melibatkan secara kolektif antara kerja otak siswa, gaya belajar, sosial belajar dan sarana pendukung belajar yang akan membantu pada terbentuknya pola belajar yang aktif (Dinamis). Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya terdapat 101 metode agar dapat menciptakan cara belajar siswa aktif.

Dalam buku ini juga dijelaskan bahwasanya belajar siswa yang aktif itu ialah yang bukan hanya sesaat namun sejak dimulai, sedang berlangsung dan juga ketika akhir dari pembelajaran. Dengan arahan memulai dengan semangat, ketika berlangsung berjalan dengan nyaman dan tertanam hasilnya sampai berakhir dari kegiatan belajar tersebut.

Rangkuman Filsafat Ilmu

Pengetahuan

Pengetahuan ialah semua yang diketahui. Dilihat dari segi motifnya, pengetahuan diperoleh melalui dua cara : Pertama : Pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa usaha, tampa keingintahuan dan tanpa disengaja. Kedua : Pengetahuan yang didasari motif ingin tahu, diperoleh lewat belajar. Rasa ingin tahu ada pada manusia sejak ia diciptakan dan rasa ingin tahu itu adalah takdir.



Pengetahuan manusia dibagi kepada :

1. Pengetahuan Sains : Objeknya empiris, paradigmanya sains, menggunakan metode ilmiah dan kriterianya rasional-empiris.

2. Pengetahuan Filsafat : Objeknya abstrak-rasional, paradigmanya rasional, menggunakan metode rasional dan kriterianya rasional.

3. Pengetahuan Mistik : Objeknya abstrak supra-rasional, paradigmanya mistik, menggunakan metode latihan/percaya dan kriterianya rasa, iman, logis dan kadang empiris.



Rasional dan Logis

Rasional menurut Kant : kebenaran akal yang dapat diukur dengan hukum alam.

Logis terbagi kepada dua : Pertama : Logis-rasional, yaitu sebagaimana kebenaran rasional. Kedua : Logis-supra-rasional, yaitu pemikiran akal yang kebenarannya mengandalkan argumen.

Logis ialah masuk akal dan logis mencakup rasional dan supra-rasional. Istilah logis bisa dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional.

Rasional ialah masuk akal dan sesuai dengan hukum alam. Sedangkan supra-rasional adalah yang masuk akal sekalipun tidak sesuai dengan hiukum alam.



BAB II

PENGETAHUAN SAINS

A. Ontologi Sains

1. Hakikat Sains

Pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional dan empiris. Masalah rasional adalah menguji kebenaran hipotesis dengan akal. Apabila mencukupi dari segi kerasionalannya (masuk akal) maka hipotesis itu sah. Maksud rasional adalah adanya hubungan sebab akibat. Masalah empiris adalah dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).

2. Struktur Sains

Pada garis besarnya sains terbagi kepada dua : sains kealaman dan sains sosial. Dalam struktur sains dijelaskan dalam bentuk nama-nama ilmu.

1) Sain Kealaman

Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumi, Ilmu Hayat,

2) Sains Sosial

Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik.

3) Humaniora sebagai pelengkap

Seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah.



B. Epistemologi Sains

1. Objek Pengetahuan Sains

Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang empiris. Jujun Suriasumantri mengatakan bahwa objek kajian sains adalah semua objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud dengan pengalaman manusia disini adalah pengalaman indra. Objek yang dapat diteliti oleh sains banyak sekali, diantaranya : alam, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains

Cara memperoleh pengetahuan sains adalah lewat akal. Karena akal dianggap mampu dan karena akal setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan itu adalah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Akal adalah alat atau sumber yang paling disepakati.

Berkembangnya sains didorong oleh berkembangnya paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Paham ini telah lahir pada zaman Yunani Kuno. Kemudian humanisme melahirkan rasionalisme. Rasionalisme yaitu paham yang mengatakan bahwa akal itulah pencari dan pengukur pengetahuan. Empirisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Positivisme ialah paham yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris dan terukur. Metode Ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains

Ukuran kebenaran sains adalah benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Hipotesis yang terbukti maka menjadi teori kemudian didukung bukti empiris maka teori itu menjadi hukum dan disebut aksioma.



C. Aksiologi Sains

1. Kegunaan Pengetahuan Sains

Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori sains :

a) Teori sains sebagai eksplanasi

b) Teori sains sebagai peramal

c) Teori sains sebagai alat pengontrol

2. Cara Sains Menyelesaikan masalah

Cara sains menyelesaikan masalah adalah dengan cara : mengidentifikasi masalah, mencari teori sebab-akibat dan membaca literatur.

3. Netralitas Sains

Menurut Herman Soewardi, sains itu tidak netral atau tidak bebas nilai. Karena apabila sains netral maka ia akan menimbulkan 3R yakni resah, renggut dan rusak.

BAB III

PENGETAHUAN FILSAFAT

A. Ontologi Filsafat

1. Hakikat Pengetahuan Filsafat

Poedjawijatna (1974 : 11) mendefinisikan filsafatn sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Secara singkatnya bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh lewat jalan berfikir.

2. Struktur Filsafat

Struktur filsafat atau sistematika filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu :

1) Ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.

2) Epistemologi, membicarakan cara memperoleh pengetahuan.

3) Aksiologi, membicarakan kegunaan pengetahuan tersebut.



1. Epistemologi Filsafat

1. Objek Filsafat

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Sedangkan objek penelitian filsafat adalah meneliti objek yang ada dan mungkin ada.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Cara memperoleh pengetahuan filsafat adalah dengan cara berfikir secara mendalam, yang dimaksud dengan berfikir mendalam yakni berfikir tanpa bukti empirik.

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang logis tidak empiris.



1. Aksiologi Filsafat

Untuk melihat kegunaan filsafat dapat dilihat pada tiga hal : a) sebagai kumpulan teori b) metode pemecahan masalah c) sebagai pandangan hidup.

1. Kegunaan Pengetahuan Filsafat

a) Kegunaan filsafat bagi Akidah

Filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanan didasari dengan argumentasi aqliyah.

b) Kegunaan filsafat bagi Hukum

Kaidah pembuatan hukum (Ushul Fiqh) dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Karena itu mantiq (logika) amat penting bagi ulama Ushul Fiqh.

c) Kegunaan filsafat bagi Bahasa

Filsafat amat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika), kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.

Kegunaan lain dari filsafat yakni sebagai methodology. Maksudnya, sebagai metode dalam menghadapi dan memecahkan masalah.

2. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah

Sesuai sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Mendalam berarti mencari asal masalah dan universal berarti melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya agar dapat diselesaikan secara efektif.

Netralitas Filsafat

Jika anda berpendapat bahwa logika adalah bagian dari filsafat, maka anda harus berpendapat bahwa filsafat adalah netral. Akan tetapi filsafat pada dasarnya tidak netral karena filsafat adalah pemikiran seseorang (subyektif) maka hal ini menunjukan bahwa pemikirannya berpihak pada pemikir.

BAB IV

PENGETAHUAN MISTIK





1. Ontologi Pengetahuan Mistik

1. Hakikat Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami oleh rasio. Pengetahuan mistik ialah pengetahuan supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2. Struktur Pengetahuan Mistik

Dari segi sifatnya mistik dibagi dua : mistik biasa yaitu mistik tanpa kekuatan tertentu, contoh : tasawuf dalam Islam dan mistik magis. Mistik magis dibagi lagi menjadi dua yaitu mistik magis putih, seperti : mukjizat, karomah dll. Mistik magis hitam, seperti : sihir.



1. Epistemologi Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa.

1. Objek Pengetahuan Mistik

Objek pengetahuan mistik adalah objek yang abstrak supra-rasional, seperti alam gaib, malaikat, surga, neraka dsb.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik

Cara memperoleh pengetahuan mistik yaitu dengan jalan riyadhah/latihan.

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik

Adakalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik adalah kepercayaan dan adakalanya adalah bukti empiris.



1. Aksiologi Pengetahuan Mistik

1. Kegunaan Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik amat subyektif, yang paling tahu penggunaannya adalah pemiliknya.

2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah

Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi juga tidak melalui proses rasio. Hal ini berlaku bagi mistik putih dan mistik hitam.

Netralitas Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik dengan mudah dilihat bahwa ia tidak netral karena isi ajaran agama yang jelas tidak netral dan bagi mistik magis selalu memiliki sifat individualistik, karena ia subyektif.



Beberapa Contoh Pengetahuan Mistik :

1) Mukasyafah

Ontologi :

Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutup diri. Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang dan dalam Tuhan. Suatu pengetahuan hakiki. Berbeda dengan sains dan filsafat, mukasyafah justru diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia – Tuhan.

Epistemologi :

Metode Penyingkapan Tabir

Menurut Ibnu Sina, dibagi dua tahapan dalam menyingap tabir : Iradah (kehendak) dan Riyadhah (latihan). Iradah yakni munculnya hasrat berpegang teguh pada jalan yang membimbing menuju Tuhan. Dan riyadhah adalah latihan yang bertujuan agar menyingkirkan segala sesuatu selain Allah, menundukan jiwa yang cenderung berbuat jahat dan melembutkan jiwa batiniah.

Aksiologi : Mampu merasakan kedekatan bahkan penyatuan diri dengan Tuhan.

2) Ilmu Laduni

Ilmu laduni yaitu ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran. Yakni ilmu yang diperoleh langsung melalui ilham, iluminasi atau inspirasi dari sisi Tuhan.

Adapun cara memperolehnya yatiu dengan jalan riyadhah (latihan).

Kegunaan ilmu laduni diantaranya adalah agar dapat memahami ilmu dengan tepat, dapat memahami dan menguasai suatu ilmu tanpa harus mempelajarinya dan lain sebagainya.

3) Saefi

Saefi yaitu ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan kepada Allah. Pada dasarnya ilmu ini diperoleh seperti memperoleh pengetahuan hikmah. Sedangkan kegunaannya agar doa cepat terkabul.

4) Jangjawokan

Jangjawokan yaitu semacam ucapan yang memiliki kekuatan magis, yang bacaannya campuran antara bahasa Sunda atau Jawa. Ilmu ini diperoleh dengan cara mendatangi guru yang bersangkutan. Biasanya orang tua yang sepuh memilki ilmu tersebut. Kegunaannya pun biasanya untuk hal-hal yang baik.

5) Sihir

Sihir menurut Muhammad bin Wahab (at-Tauhid alladzi huwa Haqqullah ‘ala al-‘abid, 1969 : 48) adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau perbuatan tertentu dengan bantuan setan yang mempengaruhi hati dan badan, sehingga menyebabkan seseorang saki, mati atau terpisah dari keluarganya.

Cara memperolehnya : Bersumpah atas nama jin, menyembelih sembelihan, melakukan kenistaan, menuliskan ayat Al-Quran menggunakan najis, menuliskan ayat Al-Quran dengan susunan sungsang, menujum menggunakan bintang, melihat melalui telapak tangan, menggunakan benda bekas pakai.

Adapun kegunaannya tergantung pada orang yang memanfaatkannya. Biasanya ilmu ini digunakan untuk kejahatan.

6) Ilmu Kebal

Ilmu kebal yaitu ilmu tentang cara-cara menjaga diri tanpa bantuan alat fisik agar tidak mempan senjata tajam atau benda lain yang dapat melukai.

Ilmu kebal diperoleh dengan cara supranatural atau lewat jalan mistik.

Kegunaannya ialah untuk menjaga diri dari kecelakaan yang diakibatkan oleh kejahatan orang lain.

7) Santet

Santet yaitu suatu pengetahuan tentang makhluk gaib yang dapat diperintah untuk mempengaruhi korban dengan menggunakan simbol-simbol dan ritual-ritual.

Ilmu ini diperoleh dengan jalan ritual. Kegunaannya adalah untuk melaksanakan niat buruk seseorang kepada orang lain.

8) Pelet

Pelet yaitu tindakan yang dilakukan untuk menarik, mengalihkan rasa cinta seseorang kepada pemelet tanpa disadari sepenuhnya oleh korban.

Cara memperolehnya adalah dengan berguru kepada kiyai, ustadz atau dukun. Kegunaanya adalah tergantung niat pelaku (pemelet).

9) Debus

Debus ialah ilmu kekebalan yang beraasal dari wilayah Banten. Dalam prakteknya, debus memang sesuatu yang luar biasa, seperti :

* Memakan kaca tetapi tidak luka
* Kulit tahan disiram air keras
* Tahan ditusuk dengan jarum
* Ditusuk atau digok tidak luka

Ada dua hal yang perlu dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan debus, yaitu :

1. Badan harus suci dari hadats kecil dan besar dan harus suci dari dosa, terutama dosa besar.

2. Dituntut adanya kebulatan tekad dan keyakinan dalam hati.

10) Tentang Jin

Jin adalah makhluk yang terletak antara manusia dan roh, dinamakan demikian karena tertutup dari pandangan mata. Sedangkan iblis adalah keturunan jin. Perbedaan jin dan setan adalah setiap setan pasti jin tetapi tidak setiap jin adalah setan.

Allah menciptakan jin dari api jauh sebelum manusia diciptakan. Jin terbuat dari api yang sangat panas. Populasinya sangat banyak melebihi populasi manusia. Dadalam Al-Quran diterangkan bahwa jin itu ada yang mukmin dan ada yang kafir. Sebagaimana surat Jinn ayat 14-15. sedangkan menurut sifat dan kemampuannya, jin terbagi kepada tiga golongan : kelompok jin yang bisa terbang dan memiliki sayap, kelompok jin yang berupa ular dan kalajengking, dan kelompok yang suka berubah-ubah.

11) Nyambat

Nyambat yaitu memanggil dan menghadirkan roh melalui suatu ritual dengan mengucapkan bacaan-bacaan tertentu.

Adapun jenis-jenis nyambat yaitu : Asrar, Abdul Jabar, Pajajaran, Kuda Lumping, Kasurupan, Tenaga gaib, Perdukunan dan ramal.

12) Ilmu Kanuragan

Yaitu ilmu bela diri, dapat berbentuk kekuatan dari dalam dan dapat juga datang dari luar, keduanya merupakan hasil dari latihan fisik dan riyadhah.

Konsep Pendidikan KH. Abdurrahman Wahid GUSDUR

Biografi K.H Abdul Wahid Hasim
Abdul Wahid Hasim lahir pada tanggal 1 Juni 1914 atau bertepatan dengan tanggal 5 Rabi’al-Awal 1333 di Jombang, Jawa Timur. Dia adalah putra Kyai haji (K.H) Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Nama yang diberikan ketika ia lahir adalah Muhammad Asy’ari, meniru nama kakenya. Tetapi karena ia sering sakit, maka nama itu diganti dengan Abdul Wahid, nama salah seorang nenek moyangnya. Selama masa kecilnya ia dipanggil oleh ibunya dengan Mudin, sedang santri ayahnya memanggil dia dengan panggilan Gus Wahid.
Tahun dimana Wahid lahir, menurut Dhofier, mempunyai nilai sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mendasarkan argumentasinya dari analisis yang dikemukakan oleh Berhard Dahm, Dhoifier menyebutkan bahwa Budi Utomo dan Indische Partiji, dua organisasi yang diakui sebagai pelopor dalam pendirian organisasi modern yang bertujuan menumbuhkan kesadaran nasional, telah gagal menjadi organisasi massa yang besar. Berdasarkan fakta yang ada, semejak pendirian kedua organisasi tersebut, Budi Utomo hanya mampu merekrut sekitar 10.000 anggota, sedang Indische mempunyai angota sekitar 7.500 orang. Kegagalan mereka dalam mobilisasi masyarakat secara luas disebabkan, diantarnya, kurang mempunyai para pemimpin Budi Utomo untuk mengidentifikasi kemauan masyarakat secara umum, sedang Indische Partij lebih banyak memfokuskan perhatiannya kepada komunitas Eurasian dan cina.
Organisasi pertama yang berhasil menjadi organisasi massa yang besar adalah Sarekat Islam (SI). Sebelum SI berdiri, telah berdiri sarekat dagang Islam (SDI). yang didirikan oleh Samanhudin pada tahun 1911. Organisasi ini pada mulanya bergerak dalam bidang perdagangan. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 10 september 1912, organisasi ini dirombak dan diganti dengan nama sarekat Islam dengan HOS Tjokroaminoto sebagai ketuanya. Organisasi ini memperluas sasaran perjuangannya dengan mengkonsentrasikan pada masalah politik dan sosial, disamping tetap bergerak dalam bidang ekonomi. Pada awal berdirinya, organisasi ini hanya mempunyai 4.500 anggota.dua tahun kemudian, tahun dimana Wahid Hasim Lahir, keanggotaannya berlipat sampai berjumlah 366.913 orang.
Kondisi politik dan sentimen keagamaan yang begitu kental pada waktu itu mungkin tidak mempunyai arti bagi anak-anak akan tetapi kondisi waktu itu mempunyai arti sangat penting bagi Wahid Hasim sebagai anak Ulama yang terkenal dan khasismatik, K.H. Hasim Asy’ari yang mana semua pemimpin nasional, seperti Jendral Sudirman dan Bung Tomo seiring bersilaturahim guna mendapatkan nasehat dan petunjuk atas persoalan agama dan politik.
Melacak nenek moyang baik dari segi garis Ayah maupun Ibu, Wahid Hasim berasal dari keluarga yang agamis. Ini berarti bahwa dia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang agamis. Ibunya, Nafiqah, adalah anak dari Kyai Ilyas seorang kyai yang terkenal dari pesantren Sewulan Madium, sedang dari garis keturunan ayah, dia merupakan keturunan dari ulama yang sangat dihormati. Ayah, kakek dan kakek buyutnya adalah ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar ilmu agama dan yang mengilhami berdirinya pesantren di Pulau Jawa. Ayah Wahid Hasim sendiri, Hasim Asy’ari, adalah pendiri pesantren Jombang. Kakeknya, K.H. Asy’ari pendiri pesantern keras Jombang. Sedangkan kakek buyutnya, K.H. Usman, selain dikenal sebagai pendiri pesantren gedang, juga dikenal sebagai ulama yang mengenalkan ajaran tarekat Naqsabandiyah di Jombang, bahkan pesantrennya sebagaimana disinyalir oleh Gus Dur, sebagai pusat gerakan sufi di Jawa Timur.
Sebagai mana seorang Kya’i Hasim Asy’ari menaruh perhatian yang luar biasa dalam pendidikan agama bagi putra-putrinya dengan pertimbangan bahwa pendidikan sebagai elemen dasar dalam pembentukan kepribadian yang baik semejak kecil, Wahid Hasim belajar langsung bimbingan ayahnya. Selain belajar bahasa Arab, ia juga mempelajari yang lainnya, misalnya membaca al-Qur’an sebagai tahap awal dari sitem pembelajaran pesantren. Pada usia 7 tahun Wahid Hasim mulai belajar teks-teks bahasa Arab klasik yang bermaktub dalam kitab kuning.
Perkembangan pengatahuan yang diperoleh Wahid Hasim selalu menjadi perhatian ayahnya. Ketika Wahid Hasim sudah cukup dalam memahami agama ayahnya mengirim dia untuk lebih mendalami ilmu-ilmu agama diberbagai pesantren. Pada usia 13 tahun dia meninggalkan pesantren Tebu Ireng. Pesantren yang pertama dikunjunginya ialah pesantren Siwalan Panji, Siwoardjo, pesantren dimana ayahnya pernah belajar dibawah bimbingan Kya’I Hasim dan kya’I Chozin Panji.
Pada tahun 1936 dia mendirikan perpustakaan dan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pada tahun 1938, Wahid Hasim ikut terlibat organisasi NU. Dan kemudian ketua cabang NU di Jomlang. 2 tahun kemudian ia dipromosikan menjadi pengurus besar NU tepatnya di Departemen Pendidikan (Ma’arif). Di lembaga inilah ia mempropagandakan ide-ide yang berkaitan dengan kurikulum pesantern dan mereorganisasi-organisasi NU. Wahid Hasim peduli terhadap perpolotikan saat itu, khususnya pada akhirnya penjajahan Belanda dan datangnya bangsa Jepang. Dia terlibat kedalam dalam menetang adanya penjajahan. Pada tahun 1940 ia terpilih menjadi ketua MIAI (Majlis al-Islam al-Ala Indonesia) sebuah pederisasi organisasi Islam pada tahun 1937, dimana NU dan Muhammadiyah menjadi tulang punggungnya. Bersama-sama dengan GAPI (Gabungan Politik Indonesia).
Setelah merdeka 1945, Wahid Hasim bersama ulama-ulama dari kalangan moderis maupun tradisionalis menyenggarakan Muhtawar Indonesia di Yogyakarta. Ia juga dipilih menjadi ketua Masyumi, menjadi mentri agama dalam tiga kabinet (Hatta, Natsir dan Sukirman) dan gagasan ia untuk mendirikan Perguruan Agama Islam Negeri (PTIN) yang kemudian diubah menjadi IAIN.
Ketika NU di bawah kepemimpinanya memutuskan keluar (melepaskan diri) dari Masyumi dan mendeklarasikan berdirinya NU sebagai partai politik pada tahun 1952, Wahid Hasim mencurahkan seluruh tenaganya bagi perkembangan partai tersebut. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 April 1953, ia meninggal dunia akibat tabrakan mobil ketika akan menghadirinya rapat NU di Bandung. Dikuburkan di tanah kelahirannya, Jombang dia meninggalkan istri, Solihah, dan enam orang putra. Putra tertuanya adalah Abdurahman al-Dachil, yang populer dipanggil Gus Dur mantan ketua PBNU dan Presiden ke-4.
Karya Wahid Hasim
Wahid Hasim adalah seorang penulis yang cukup produktif. Meskipun dia tidak menulis sebuah buku, berbagai artikel ditulisannya baik meyangkut masalah keagamaan, pendidikan maupun isu sosial politik. Tulisan-tulisnya dipublikasikan di berbagai majalah dan koran. Secara umum, tulisan Wahid Hasim dapat diklasifikasikan menjadi empat yakni pendidikan, politik, administrasi departemen agama, dan agama.
Dalam bidang pendidikan, Wahid Hasim memberikan perhatian terhadap reformasi pendidikan, misalnya pendidikan bagi anak, perkembangan kemampuan bahasa, pendidikan agama, termasuk di dalamnya pendirian perguruan tinggi agama, dan perlunya penggunaan rasio guna menyelesaikan masalah-masalah kekinian. Ia menulis juga sebuah artikel yang berjudul ‘’Abdullah Oebayd sebagai pendidikan’’ dalam artikelnya, dia menjelaskan bagaimana sebaiknya mendidik seorang anak, dia mengatakan bahwa anak-anak harus dilatih sejak dini untuk menggunakan segenap kemampuannya. Ini sangat penting untuk membiasakan mereka bersandar pada dan mengetahui kemampuan mereka sendiri. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dengan percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita mereka.
Ia menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan bahasa Indonesia. Dalam artikelnya ‘’Kemajuan Bahasa, Berarti Kemajuan Bangsa’’ dia juga mengajak bangsa Indonesia menggunakannya sehari-hari dalam kehidupan. Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap adanya kecenderungan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Belanda dan Inggris, dalam sehari-harinya. Ekspresinya ‘’good morning atau goeden morgen’’ lebih banyak terdengar dalam masyarakat dibandingkan ‘’selamat pagi’’.
Berdirinya perguruan tinggi agama, menurut Wahid Hasim, merupakan satu cara mencapai kemajuan. Ia menekan bahwa ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dalam atmoster keterbukaan, tak dicampuri dengan doktrin agama dan politik. Dalam sambutannya, dia juga menambahkan bahwa perlu menjalin kerja sama antara perguruan tinggi lainnya, misalnya Sekolah Teologi, bahkan ia berharap adanya merger diantara perguruan tinggi tersebut.
Dalam artikelnya juga dituliskan ‘’Siapakah Jang Akan Menang dalam Pemilihan Umum Jang Akan Datang?’’ misalnya, Wahid Hasim secara terang-terangan mengkritiki partai-partai politik yang masih mengutamakan kepentingan indipidualisme keinginan (interest) golongannya di atas kepentingan Negara. Tujuh tahun setelah kemerdekaan, menurutnya tidak membuat Indonesia semakin bagus dalam beberapa aspek lebih buruk. Adanya situasi ini disebabkan partai politik tidak punya spirit untuk maju, tetapi sebaliknya mereka berebut untuk mendapatkan kursi, yakni mengamankan posisi mereka dalam pemerintah, meskipun tidak layak untuk mendudukinya. Wahid Hasim meminta agar partai politik menyadari kelemahan mereka, keluar dari pikiran yang sempit dan picik dan berjuang bagi kejayaan bangsa Indonesia secara umum.
Biografi Wahid Hasim, setidaknya menunjukan bahwa meskipun produk pesantren, dia adalah seorang yang berpikiran maju sebagaimana dibuktikan dengan keterlibatkan dalam berbagai organisasi sosial keagamaan dan politik. Keterlibatannya di NU, MIAI, dan Masyumi mengindikasikan komitmennya terhadap pendidikan, perjuang kemerdekaan dan perkembangan sebuah Negara Indonesia yang kuat.
Pembaharuan Pendidikan
Setelah terlibat dalam perpolitikan beberapa tahun khususnya pada masa Jepang perang kemerdekaan Wahid Hasim kembali berkiprah dalam dunia pendidikan yakni terlibat dalam upaya meningkatkan pendidikan Umat Islam pada awal tahun 50-an. Penunjukan Wahid Hasim sebagai mentri agama dalam tiga kabinet, yakni kabinet Hatta, Natsir dan Sukirman, secara terus menerus, menurut Dhofier, merupakan pristiwa penting dalam sejarah Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan. Dia berargumentasi bahwa benar kementrian sudah ada sejak Kbinet Syahir, yang dibentuk pada tanggal 3 Januari 1946, akan tetapi disesbabakan belum amannya situasi pada waktu itu sampai adanya pengakuan kedaulatan Negara Indonesia pada bulan desember 1949, kementrian agama mempunyai peran yang berarti dalam sistem pemerintahaan Indonesia. Wahid Hasimlah yang memberikan peran yang berarti.
Diantara usahanya adalah memasukan pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan nasional. Wahid Hasim menyadari bahwa sejak sisitem pendidikan nasional mengadopsi pelajaran sekuler, banyak hal yang hilang dari pendidikan terutama dalam yang berkaitan dengan nilai dan moral. Hal ini menjadi perhatiannya karena, sebagaimana disebutkan diatas pendidikan yang menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia tidak hanya peroalan perkembangan akal atau badan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga persoalan perkembangan spirit yang hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama. Oleh karena itu, dia menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus memasukan pelajaran agama dan harus diberiakn secara seimbang dengan pelajaran umum. Perdebatan melalui apakan pelajaran agama harus diberikan disekolah pemerintah (negeri) atau tidak, akhirnya diakhiri dengan SK bersama antara kementrian agama dengan kementrian pendidikan yang menyatakan bahwa pelajran agama harus diberiakn sejak kelas 4 dan sekolah menengah selama 2 jam dalam seminggu. Berkat usaha Wahid Hasim-lah dalam kabinet, akhirnya pemerintahan mengeluarkan peraturan tertanggal 21 januari 1951, yang mewajibkan pelajaran agama harus diajarkan di sekoalah umum.
Untuk meningkatkan kualitas madrasah, Wahid Hasim mengusahakan adanya subsidi bagi madrasah swasta mulai level dasar, menengah pertama dan atas. Berkaitan dengan kurikulum, Wahid Hasim juga mengeluarkan peraturan mentri agama no. 3 tertanggal 11 Agustus 1950 yang mewajibkan adanya pelajaran umum diajarkan di madrasah.
Selama menjadi menrti agama, Wahid Hasim juga berinisiatif untuk mengembangkan sistem pendidikan yang sudah ada, misalnya didiriaknya PGA (Pendidikan Guru Agama) dan PTAIN (Perguruan Tinggi Islam Negeri). Wahid Hasim menyadari bahwa kebanyakan guru yang mengajar di madrasah adalah lulusan HIS atau hanya lulusan pesantern yang dianggap belum mampu mengemban tugas tersebut, oleh karena itu berdirnya PGA di setiap propinsi dan kemudian tiap kabupaten mempunyai arti yang sangat penting, sehingga guru-guru madrasah yang lululs PGA akan dilengkapi berbagai keterampilan proses belajar mengajar yang modern. Hal ini mempunyai damapak positif dalam membantu peningkatan kualitas lulusan madrasah.
Wahid Hasim juga mendirikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) pada tanggal 26 Desember 1951 di Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi 14 IAIN, satu IAIN ditiap 14 provinsi, menampung kurang lebih tiga puluh ribu mahasiswa, perkembangan IAIN masa tersebut sangat tergantung kepada perkembangan madrasah ataupun PGA yang ingin melanjutakan pendidikannya. Meskipun pembentukan perguruan tinggi tersebut, menurut Wahid Hasim, bertujuan untuk mencapi kemajuan dengan memberikan penekanan pada pengembangan atmosfir berfikir secara rasional, sayangnya dalam perkembangannya, institusi ini banyak menghadapi problem,khususnya kualitas pendidikannya.
Beberapa orang bisa jadi menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Wahid Hasim menyebabkan adanya dualisme dalam sistem pendidikan Indonesia. Di satu sisi Departemen Pendidikan dan kebudayaan mengembangkan sistem pendidikan yang berorentasi kepada sistem barat, sedang disisi lain, yang lain, karena usaha Wahid Hasim, departemen agama menerapakan sistem pendidikan yang berorentasi pada institusi pesantren. Akan tetapi, pengambilan kesimpulan seperti itu menurut Dhofier, sama halnya menafikan fakta-fakta sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Sebagaimana dijelaskan diatas,belandalah yang mengenalkan sistem pendidikan barat yang menyebabkan adanya dikotomi pendidikan di tanah air. Apa yang di lakukan Wahid Hasim, dengan mendirikan dan mengembangkan madrasah,adalah upaya kompromi yang menjembatani dua sistem, sisitem barat dan sistem pesantren

Konsep Pendidikan Ibnu Khuldun


KATA PENGANTAR
Maha suci Allah, segala puji baginya, tiada Tuhan selain Dia. Dialah yang menabur hikmah benih-benih kehidupan. Dialah yang memiliki nama-nama indah, dan hanya dialah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, teladan utama bagi manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Rasa syukur filhamdulillah dipanjatkan kehadirat-Nya yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Konsep Pendidikan Dalam Perspektif Ibnu Khaldun”.
Pada kesempatan ini penulis pergunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dan penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Karena itu penulis menunggu saran dan kritik sebagai upaya perbaikan dan penyempurnaan untuk makalah selanjutnya.
Akhirnya kepada-Nya kami berharap, semoga makalah ini bermanfaat. Amin ya rabb alamin.
_____________________________________________________________

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Dewasa ini dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan islam banyak diterpa masalah yang tak kunjung usai. Sedangkan tidak semua masalah dalam dunia pendidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata. Diantara masalah dalam dunia pendidikan sedikit banyaknya memerlukan pendekatan filosofis dalam pemecahannya. Analisis filsafat terhadap masalah-masalah tersebut diharapkan dapat menghasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah tersebut. Dari fenomina tersebut lahirlah apa yang dinamakan filsafat pendidikan islam. Uraian mengenai filsafat pendidikan islam diharapkan akan banyak memberikan gambaran dan kemudahan dalam memahami problematika dunia pendidikan islam. Munculnya filsafat pendidikan islam sebagai suatu ilmu baru adalah sebagai akibat adanya hubungan timbal balik antara filsafat dan pendidikan dalam islam untuk memecahkan dan menjawab masalah-masalah pendidikan islam secara filosofis.
Dalam kajian makalah tentang filsafat pendidikan islam penulis menghususkan pada konsep pendidikan dalam perspektif Ibnu Khaldun.
RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana riwayat Ibnu Khaldun?
• Bagaimana konsep pendidikan islam menurut Ibnu Khaldun?
TUJUAN
• Untuk mengetahui riwayat hidup Ibnu Khaldun
• Untuk mengetahui konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun
BAB II
PEMBAHASAN
RIWAYAT SINGKAT HIDUP IBNU KHALDUN
Dunia mendaulatnya sebagai “bapak sosiologi islam”. sebagai salah satu seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buat pikirnya amat berpengaruh. sederet pemikir barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm, Friedrich Hegel, robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Lager Mengagumi pemikirannya.
Tak heran, pemikir arab, Nj Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, ilmuwan besar yang terlahir pada tanggal 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H di Tunisia. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Latar Belakang Pendidikan
Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya, sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal Al-Quran, dan fasih dalam qira’at al-sab’ah, di samping dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir, hadits, fiqh (Maliki), gramatika bahasa arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. pendidikan formalnya dilaluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. dalam usia yang masih relatif muda ini ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, Khaldun juga tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. ketika usianya melewati 17 tahun ia kemudia belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya.
Karya – karyanya
Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. adapun hasil karya – karyanya yang terkenal diantaranya adalah:
Kitab Muqaddimah
Buku pertama dari kitab al-‘ibar yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku ini juga yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.
Kitab Al-‘Ibar, Wa Diwan Al-Mubtada’ Wa Al-Khabar, Fi Ayyan Al-‘Arab Wa Al-‘Ajam Wa Al-‘Barbar, Wa Man Ashrumun Min Dzawi As-Sulthani Al-‘Akbar. (kitab pelajaran dan arsip sejarah zaman permulaan dan zaman akhir yang mencakup peristiwa politik mengenai orang-orang arab, non – arab, dan barbar, serta raja – raja besar yang semasa dengan mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘iba, yang terdiri dari tiga buku yaitu:
Buku pertama, kitab muqaddimah atau jilid pertama yang berisi tentang : masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki.
Buku kedua, terdiri dari empat jilid yaitu dari jilid kedua sampai jilid kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa arab, genarasi – generasi serta dinasti – dinasti mereka.
Buku ketiga, terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujua, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi (Afrika utara)
Kitab al-ta’rif bi Ibnu Khaldun wa rihlatuhu syargon wa gharban atau disebut al-ta’rif, dan oleh orang – orang barat disebut dengan autobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai Ibnu Khaldun.
KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDUN
1. Pengertian dan tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun
Di dalam kitab muqaddimahnya Ibn Khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran – gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa:
“barang siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terididik oleh zaman”
Maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan dengan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru – guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan memepelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa – peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkanya.
Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan menurut Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan tidak hanya proses belajar mengajar, tetapi pendidikan adalah suatu proses, dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.
Adapun tujuan pendidikan menurut Khaldun ada enam, yaitu:
Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan
Menyiapkan seseorang dari segi akhlak
Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial
Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan
Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran
Menyiapkan seseorang dari segi kesenia
2. Pandangan tentang manusia didik
Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya. Menurut Khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya. akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak prilaku seorang manusia.
Pandangan Khaldun tentang manusia sebagai suatu makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya karena manusia mempunyai akal (Makhluk berfikir). Lewat kemampuan berfikirnya itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya sehingga mampu melahirkan ilmu (Pengetahuan) dan teknologi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makan hidup. Proses – proses semacam ini yang melahirkan peradaban.
Pada bagian lain, Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh – sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam – macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
3. Pandangan tentang ilmu atau materi pendidikan
Adapun pandangan mengenai materi pendidikan. Karena materi merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam, yiatu:
Ilmu Naqli (Traditional science)
Meliputi al-qur’an, hadits, ‘ulum al-qur’an, ‘ulum al-hadits, fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf dan ta’bir ru’ya.
Ilmu Aqli (Rational science)
Meliputi mantiq, fisika, matematika, kedokteran, pertanian, metafisika, geometri, al-jabar, musik dan astronomi.
Diantara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kepada anak didik, yaitu:
Ilmu syari’ah dengan semua jenisnya
Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan
Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika dan sebagainya.
Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq
4. Pandangan mengenai kurikulum
Sebelum membahas pandangan Khaldun mengenai kurikulum, perlu diketahui bahwa pengertian kurikulum pada zamannya berbeda dengan pengertian kurikulum masa kini (modern). Pengertian kurikulum pada masa Khaldun masih terbatas pada maklumat – maklumat dan pengetahuan yang dikemukaan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab – kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Sedangkan pengertian kurikulum modern telah mencakup konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup konsep yang lebih luas, seperti tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan – pengetahuan, maklumat – maklumat, data kegiatan – kegiatan, pengalaman – pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum dan hasil proses pendidikan.
Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum dapat dilihat dari epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat islam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu pengetahuan syari’at dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan syari’ah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.
5. Pandangan mengenai metode pendidikan
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini, Khaldun sebagaimana dikutip Scheleife mengemukakan enam prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:
Prinsip pembiasaan
Prinsip tadris (berangsur – angsur)
Prinsip pengenalan umum (generalistik)
Prinsip kontinuitas
Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
Para pendidikan hendaknya mengetahui kemampuan dan dara serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidik yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Menghindari kekesaran dalam mengajar
Menurut khaldun, seseorang yang dahulunya diajarkan dengan cara kasar, keras dan cacian akan dapat mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak, anak yang demikian cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung, dan tidak percaya diri serta berperangai busuk, mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut diperlakukan keras atau kasar.
Di dalam buku muqaddimahnya, Khaldun telah mencanangkan langkah – langkah pendidikan, yaitu:
Pertama, di dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem – probelm pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.
Kedua, setelah pendidik memberikan problem – problem yang umum dari pengetahuan tadi, baru pendidik membahasnya lebih detail dan terperinci.
Ketiga, pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimanapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna.
Selain itu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah, pandai menghargai pendapat orang lain dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Khaldun yaitu prinsipnya yang menyatakan bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dalam kajian tentang konsep pendidikan dalam perspektif Ibnu Khaldun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Yaitu sebagai ilmuan dan sejarawan, Khaldun telah banyak turut mewarnai pemikiran – pemikiran tentang pendidikan. Dia telah mencanangkan dasar – dasar dan sistem pendidikan yang patut diteladani baik di masa lalu maupun masa sekaran. Dari segi metode, materi, maupun kurikulum yang ditawarkan secara keseluruhan pantas untuk dikaji dan dicermati. Dia telah menyajikan pandangan – pandangannya dalam bentuk orientasi umum, sehigga dia mengatakan bahwa aktifitas pendidikan bukan semata – mata bersifat pemikiran dan perenungan, akan tetapi ia merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas insani, dan karenanya ia harus dinikmati oleh setiap makhluk sosial yang bernama manusia. Karena orientasi pendidikan menurut Khaldun adalah bagaimana bisa hidup bermasyarakat. Adapun metode yang ditawarkan Khaldun bersifat intelektualitas, dengan prinsip memberikan kemudahan – kemudahan bagi anak didik guna tercipta tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
SARAN
Orang bijak mengatakan bahwa ” tak ada gading yang tak retak”. Tidak ada sesuatu di jagad raya ini yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Penulis mengharapkan masukan – masukan yang berupa kritik dan saran konstruktif guna pembuatan makalah selanjutnya, sehingga penulis dapat membenahi sedikit demi sedikit kesalahan dan kekurangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991
Nata Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997
Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta, Ciputat pers, 2002
________ , Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, jakarta, Gaya Media Pratama, 2001
http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?option=comcontent&task=view&id=100&itimed=52
http://zaldym.wordpress.com /2008/10/23/ibnu-khaldun-bapak- sosiologi-islam
http://www.republika.co.id/berita/34525/ibnu-khaldun-peletak-dasar-sosiologi-islam
http://www.republika.co.id/berita/34525/ibnu-khaldun-peletak-dasar-sosiologi-islam
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm., 171
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta, Ciputat pers, 2002), hlm., 91
http://zaldym.wordpress.com /2008/10/23/ibnu-khaldun-bapak- sosiologi-islam
http://uin-suka.info/ejurnal/index.php?option=com-content&task=view&id=100&itimed=52
Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm., 93
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 1991), hlm., 155
Nata, Filsafat Pendidikan, hlm., 175
Samsul Nizar, Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam (jakarta, Gaya Media Pratama, 2001), hlm., 22
Nata, Filsafat Pendidikan, hlm., 176

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons