Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2011

Nasihat Bagi Pemuda Muslim Dan Penuntut Ilmu

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertama-tama aku menasihatimu dan diriku agar bertakwa kepada Allah Jalla Jalaluhu, kemudian apa saja yang menjadi bagian/cabang dari ketakwaan kepada Allah Tabaarakan wa Ta’ala seperti :

[1]. Hendaklah kamu menuntut ilmu semata-mata hanya karena ikhlas kepada Allah Jalla Jalaluhu, dengan tidak menginginkan dibalik itu balasan dan ucapan terima kasih. Tidak pula menginginkan agar menjadi pemimpin di majelis-majelis ilmu. Tujuan menuntut ilmu hanyalah untuk mencapai derajat yang Allah Jalla Jalaluhu telah khususkan bagi para ulama. Dalam firmanNya.

“Artinya : … Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …?” [Al-Mujaadilah : 11]

[2]. Menjauhi perkara-perkara yang dapat menggelincirkanmu, yang sebagian ” Thalibul Ilmi” (para penuntut ilmu) telah terperosok dan terjatuh padanya.

Diantara perkara-perkara itu :

[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga ingin menaiki kepala mereka sendiri.

[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain sesuai dengan apa yang tampak menurut pandangannya, tanpa meminta bantuan (dari pendapat-pendapat) para ulama Salaf pendahulu ummat ini, yang telah meninggalkan “harta warisan” berupa ilmu yang menerangi dan menyinari dunia keilmuan Islam. (Dengan warisan) itu jika dijadikan sebagai alat bantu dalam upaya penyelesaian berbagai musibah/bencana yang bertumpuk sepanjang perjalanan zaman. Sebagai mana kita telah ikut menjalani/merasakannya, dimana sepanjang zaman itu dalam kondisi yang sangat gelap gulita.

Meminta bantuan dalam berpendapat dengan berpedoman pada perkataan dan pendapat Salaf, akan sangat membantu kita untuk menghilangkan berbagai kegelapan dan mengembalikan kita kepada sumber Islam yang murni, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah.

Sesuatu yang tidak tertutup bagi kalian bahwasannya aku hidup di suatu zaman yang mana kualami padanya dua perkara yang kontradiksi dan bertolak belakang, yaitu pada zaman dimana kaum muslimin, baik para syaikh maupun para penuntut ilmu, kaum awam ataupun yang memiliki ilmu, hidup dalam jurang taqlid, bukan saja pada madzhab, bahkan lebih dari itu bertaqlid pada nenek moyang mereka.

Sedangkan kami dalam upaya menghentikan sikap tersebut, mengajak manusia kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikian juga yang terjadi di berbagai negeri Islam. Ada beberapa orang tertentu yang mengupayakan seperti apa yang kami upayakan, sehingga kamipun hidup bagaikan “Ghuraba” (orang-orang asing) yang telah digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau yang telah dimaklumi, seperti :

“Artinya : Sesungguhnya awal mula Islam itu sebagai suatu yang asing/aneh, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka berbahagialah bagi orang-orang yang asing”

Dalam sebagian riwayat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Mereka (al-Ghurabaa) adalah orang-orang shaleh yang jumlahnya sedikit sekeliling orang banyak, yang mendurhakai mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka” [Hadits Riwayat Ahmad]

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda :

“Artinya : Mereka orang-orang yang memperbaiki apa yang telah di rusak oleh manusia dari Sunnah-Sunnahku sepeninggalku”.

Aku katakan : “Kami telah alami zaman itu, lalu kami mulai membangun sebuah pengaruh yang baik bagi dakwah yang di lakukan oleh mereka para ghuraba, dengan tujuan mengadakan perbaikan ditengah barisan para pemuda mukmin. Sehingga kami jumpai bahwa para pemuda beristiqomah dalam kesungguhan di berbagai negeri muslim, giat dalam berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mengetahui keshahihannya”.

Akan tetapi kegembiraan kami terhadap kebangkitan yang kami rasakan pada tahun-tahun terakhir tidak berlangsung lama. Kita telah dikejutkan dengan terjadinya sikap “berbalik”, dan perubahan yang dahsyat pada diri pemuda-pemuda itu, di sebagian negeri[1]. Sikap tersebut, hampir saja memusnahkan pengaruh dan buah yang baik sebagai hasil kebangkitan ini, apa penyebabnya ? Di sinilah letak sebuah pelajaran penting, penyebabnya adalah karena mereka tertimpa oleh perasaan ujub (membanggakan diri) dan terperdaya oleh kejelasan bahwa mereka berada di atas ilmu yang shahih. Perasaan tersebut bukan saja diseputar para pemuda muslim yang terlantar, bahkan terhadap para ulama. Perasaan itu muncul tatkala merasa bahwa mereka memilki keunggulan dengan lahirnya kebangkitan ini, atas para ulama, ahli ilmu dan para syaikh yang bertebaran diberbagai belahan dunia Islam.
Sebagaimana merekapun tidak mensyukuri nikmat Allah Jalla Jalaluhu yang telah memberikan Taufik dan Petunjuk kepada mereka untuk mengenal ilmu yang benar beserta adab-adabnya. Mereka tertipu oleh diri mereka sendiri dan mengira sesungguhnya mereka telah berada pada status kedudukan dan posisi tertentu.
Merekapun mulai mengeluarkan fatwa-fatwa yang tidak matang alias mentah, tidak berdiri diatas sebuah pemahaman yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka tampaklah fatwa-fatwa itu dari pendapat-pendapat yang tidak matang, lalu mereka mengira bahwasanya itulah ilmu yang terambil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, maka mereka pun tersesat dengan pendapat-pendapat itu, dan juga menyesatkan banyak orang.

Suatu hal yang tidak sama bagi kalian, akibat dari itu semuanya muncullah sekelompok orang (“suatu jama’ah”) dibeberapa negeri Islam yang secara lantang mengkafirkan setiap jama’ah-jama’ah muslimin dengan filsafat-filsafat yang tidak dapat diungkapkan secara mendalam pada kesempatan yang secepat ini, apalagi tujuan kami pada kesempatan ini hanya untuk menasehati dan mengingatkan para penuntut ilmu dan para du’at (da’i).

Oleh sebab itu saya menasehati saudara-saudara kami ahli sunnah dan ahli hadits yang berada di setiap negeri muslim, agar bersabar dalam menuntut ilmu, hendaklah tidak terperdaya oleh apa yang telah mereka capai berupa ilmu yang dimilikinya. Pada hakekatnya mereka hanyalah mengikuti jalan, dan tidak hanya bersandar pada pemahaman-pemahaman murni mereka atau apa yang mereka sebut dengan “ijtihad mereka”.
Saya banyak mendengar pula dari saudara-saudara kami, mereka mengucapkan kalimat itu, dengan sangat mudah dan gampang tanpa memikirkan akibatnya : “Saya berijtihad”. Atau “Saya berpendapat begini” atau “Saya tidak berpendapat begitu”, dan ketika anda bertanya kepada mereka ; Kamu berijtihad berdasarkan pada apa, sehingga pendapatmu begini dan begitu ? Apakah kamu bersandar pada pemahaman al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta ijma’ (kesepakatan) para ulama dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya ? Ataukah pendapatmu ini hanya hawa nafsu dan pemahaman yang pendek dalam menganalisa dan beristidlal (pengambilan dalil)?. Inilah realitanya, berpendapat berdasarkan hawa nafsu, pemahaman yang kerdil dalam menganalisa dan beristidlal. Ini semuanya dalam keyakinanku disebabkan karena perasaan ujub, kagum pada diri sendiri dan terperdaya.

Oleh sebab itu saya jumpai di dunia Islam sebuah fenomena (gejala) yang sangat aneh, tampak pada sebagian karya-karya tulis.

Fenomena tersebut tampak dimana seorang yang tadinya sebagai musuh hadits, menjadi seorang penulis dalam ilmu hadits supaya dikatakan bahwa dia memiliki karya dalam ilmu hadits. Padahal jika anda kembali melihat tulisannya dalam ilmu yang mulia ini, anda akan jumpai sekedar kumpulan nukilan-nukilan dari sini dan dari sana, lalu jadilah sebuah karya tersebut. Nah apakah faktor pendorongnya (dalam melakukan hal ini) wahai anak muda ? Faktor pendorongnya adalah karena ingin tampak dan muncul di permukaan. Maka benarlah orang yang berkata.
“Perasaan cinta/senang untuk tampil akan mematahkan punggung (akan berkaibat buruk)”
Sekali lagi saya menasehati saudara-saudaraku para penuntut ilmu, agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri.

Sebagai penutup nasehat ini hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-cara kaku dan keras di dalam berdakwah, karena kami berkeyakinan bahwasanya Allah Jalla Jalaluhu ketika berfirman.
“Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik …” [An-Nahl : 125]
Bahwa sesungguhnya Allah Jalla Jalaluhu tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al-haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika di padukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

“Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali”.

[Nasehat ini dinukil dari kitab "Hayat al-Albani" halaman : 452-455]
[Disalin dari Majalah : as-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, dengan judul asli "Hukmu Fiqhil Waqi' wa Ahammiyyatuhu". Ashalah, diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku "Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini" hal. 127-150 Terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi'i.]

Penyusun katakan : “Sebagaimana yang terjadi di negeri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian “Salafiyah”, memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namum hakekatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah Salafiyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri. Wal ‘iyadzu billahi, kami mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari nasib yang serupa

On Becoming a Leaner

1.a. Manusia Pembelajar

Tugas, tanggung jawab dan panggilan pertama seorang manusia adalah menjadi pembelajar. Sedangkan pelajaran pertama dan terutama yang perlu dipelajarinya adalah belajar menjadikan dirinya semanusiawi mungkin.

“Bacalah dengan nama tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq 96:1-5)

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang berpotensi untuk pertama-tama belajar tentang (learning how to think) dirinya, kemudian berusaha belajar menjadi (learning to be) dirinya itu, dengan cara belajar (learning how to do) mengekspresikan potensinya ke dunia luas (inside out).

Siapakah manusia pembelajar itu?

Salah satu jawabannya adalah : Setiap orang (manusia) yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting, yakni: pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang beberapa pertanyaan eksistensial seperti “Siapakah aku?”, “Dari manakah aku datang?”, “Ke manakah aku akan pergi?”, “Apakah yang menjadi tanggungjawabku dalam hidup ini?”, dan “Kepada siapa aku harus percaya?”; dan kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasikan segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, dengan cara menjadi dirinya sendiri dan menolak untuk disbanding-bandingkan dengan segala sesuatu yang “bukan dirinya”.
1.b. Keharusan Belajar dan Keutamaannya

Seorang Muslim harus menuntut setiap disiplin ilmu pengetahuan yang bermanfaat dari ahlinya, maka menuntut ilmu itu adalah suatu kewajiban, diantaranya ada yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah atas keseluruhan umat Islam, baik ilmu pengetahuan agama maupun ilmu pengetahuan duniawi (sains), dari apa yang dibutuhkan oleh individu ataupun masyarakat.

Sesungguhnya ilmu itu hanyalah dicapai dengan belajar, dan Allah telah memberikan kepada manusia perangkat ilmu pengetahuan, maka tidak boleh baginya untuk tidak menfungsikannya.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl 16:78)

Dan Al-Qur’an melarang untuk mengikuti apa yang tidak ada dalil bagi manusia yang menunjukkan kebenarannya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’ 17:136)

Ilmu itu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan.

Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.

Ilmu pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan,yang bathil dalam keyakinan umat manusia.
1.b.i. Pengarahan Al-Qur’an untuk mencari ilmu

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa 20:114)

“Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar 39:9)

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah 58:11)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir 35:28)
1.b.ii. Pengarahan As Sunnah untuk mencari ilmu

“Mencari ilmu itu wajib atas setiap orang Islam. Dan orang yang mengajarkan ilmu pada orang yang bukan ahlinya seperti orang yang memakaikan kalung permata, mutiara, emas pada leher babi.” (HR. Ibnu Majah)

“Kelebihan seorang alim daripada seorang ibadat, bagaikan kelebihanku terhadap orang yang terendah di antara kamu. Kemudian Nabi bersabda pula: Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya dan semua penduduk langit dan bumi hingga semut yang di dalam lobangnya dan ikan-ikan selalu mendo’akan kepada guru-guru yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. Attirmidzi)

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah akan mendapat kebaikan, maka dipandaikan dalam agama.” (HR. Bukhari, Muslim)

“Seutama-utamanya sedekah ialah bahwa seseorang muslim belajar suatu ilmu kemudian ia ajarkan kepada saudaranya yang muslim” (HR. Ibnu Majah)

“Seorang ahli fikih (berilmu) adalah lebih berat bagi syaitan untuk menggodanya daripada seribu ahli ibadah” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Baihaqi)

“Tidak boleh menginginkan kepunyaan orang lain melainkan dua macam. Orang yang diberi oleh Allah kekayaan, maka dipergunakan untuk membela haq kebenaran dan orang yang diberi oleh Allah ilmu pengetahuan, hikmat maka diajarkan kepada semua orang.” (HR. Bukhari, Muslim)

“Keutamaan ilmu itu lebih dari keutamaan ibadah, dan sebaik-baiknya agama kamu ialah keshalehan.” (HR. Thabrani)

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada saya bagaikan hujan yang turun ke tanah, maka sebagian ada tanah yang subur (baik) dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan serta rumput yang banyak sekali. Dan ada pula tanah yang keras menahan air, hingga berguna untuk minuman dan penyiram kebun tanaman, dan ada beberapa tanah hanya keras-kering tidak dapat menahan air dan tidak pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah contoh orang yang pandai di dalam agama Allah dan mempergunakan apa yang diberikan Allah kepadaku lalu mengajar, dan perumpamaan orang yang tidak dapat menerima petunjuk Allah yang telah ditugaskan kepadaku.” (HR. Bukhari, Muslim)

“Siapa yang berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu pengetahuan, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

“Jika mati seorang anak Adam (manusia) maka terputuslah amal usahanya sendiri kecuali tiga: Sedekah yang berjalan terus. Ilmu pengetahuan yang berguna. Anak yang saleh yang selalu mendo’akan padanya.” (HR. Muslim)

“Siapa yang keluar berusaha untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga ia kembali” (HR. Tirmidzi)

Riwayat dari Abu Hasan Almawardi menyatakan bahwa Rasulullah SAW. telah bersabda, yang maksudnya, “Siapa yang inginkan kebahagiaan di dunia, maka hendaklah ia berilmu, dan siapa yang inginkan kebahagiaan di akhirat, maka hendaklah ia berilmu, dan siapa yang inginkan kedua-duanya maka hendaklah ia berilmu.”

Abu Darda’ r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasuluah saw. bersabda: Siapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu Allah akan memudahkan baginya jalan ke sorga. Dan para malaikat selalu meletakkan sayapnya menaungi para pelajar, karena senang dengan perbuatan mereka. Dan seorang alim dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi dan ikan-ikan di dalam air. Kelebihan seorang alim atas seorang ahli ibadat bagaikan kelebihan sinar bulan atas lain-lain bintang. Dan sesungguhnya ulama (guru-guru) sebagai waris dari nabi-nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham hanya mereka mewariskan ilmu, maka siapa yang telah mendapatkannya berarti telah mengambil bagian yang besar. (HR. Abu Dawud, Attirmidzi)

Abdullah bin Amru bin Al-‘Ash ra. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu pengetahuan dari orang-orang begitu saja, tetapi akan mencabutnya dengan matinya orang-orang alim, maka orang-orang akan mengangkat orang-orang yang bodoh untuk memimpin mereka, maka jika ditanya, akan memberikan fatwanya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan (akan menjawab dengan kebodohan) hingga sesat dan menyesatkan. (HR. Bukhari, Muslim)
1.b.iii. Pengarahan ulama untuk mencari ilmu

Imam Hasan al-Bashri mengucapkan perkataan yang sangat dalam artinya : “Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan.”
1.b.iv. Pengarahan beberapa tokoh untuk mencari ilmu

“Tidak belajar satu hari berarti mundur satu hari.” (Jakob Sumardjo)

“Belajar dan mengajar secara berkesinambungan harus menjadi bagian dari pekerjaan.” (Peter F. Drucker)

“Mereka yang buta huruf (illiterate) di abad ke-21 bukanlah orang-orang yang tidak bisa membaca dan menulis, namun mereka yang tidak bisa belajar, melupakan ajaran-ajaran masa lalu, dan kembali belajar (learn, unlearn and relearn)” (Alvin Toffler)

“Kesenangan belajar memisahkan kaum muda dengan kaum tua. Sepanjang Anda bersedia belajar, Anda tidak pernah menjadi tua.” (Rosalyn S.Yallow)
1.c. Visi Pembelajaran

Proses pembelajaran atau pendidikan memungkinkan seseorang menjadi lebih manusiawi (being humanize) sehingga disebut dewasa dan mandiri. Itulah visi atau tujuan dari proses pembelajaran.

Perbedaan antara kanak-kanak dengan orang dewasa dapat diringkas dalam satu kata : kemampuan. Kemampuan ini umumnya dikaitkan dengan sedikitnya tiga hal berikut : pengetahuan, sikap dan keterampilan.

Kanak-kanak memiliki pengetahuan yang amat terbatas hampir dalam segala hal, baik tentang dirinya, orang lain, alam semesta, apalagi tentang Sang Khalik. Kanak-kanak juga belum mampu menentukan sikap, apakah harus positif atau negatif, kritis atau menerima, terhadap hampir semua hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam hal keterampilan pun sama saja, entah itu yang bersifat teknis-pertukangan maupun nonteknis pertukangan (komunikasi, kepemimpinan, manajemen dan human skills lainnya). Jadi pertumbuhan seorang kanak-kanak menjadi manusia dewasa sesungguhnya ditandai dengan perkembangan kemampuan-nya. Ia menjadi semakin mampu, semakin berdaya, dan semakin merdeka dari hal-hal yang di luar dirinya.

Seorang kanak-kanak dapat tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Ia dapat karena ia memiliki potensi dalam dirinya. Potensi itu tidak diberikan oleh siapa-siapa. Potensi itu diberikan oleh Sang Pencipta kepada diri manusia sebagai ciptaan-Nya. Dan potensi itu diberikan untuk diaktualisasikan, dinyatakan, diberdayakan, dimerdekakan, dijadikan actual, dikembangkan, diasah terus-menerus dan pada gilirannya kelak dipertanggungjawabkan kepada Sang Pemberi.

Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu bertanggung jawab atas diri sendiri dan menolak pendiktean atau pemaksaan kehendak dari apa pun yang berada di luar diri. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mampu menyatakan, mengaktualisasikan, mengeluarkan potensi-potensi yang dipercayakan (dititipkan) Sang Pencipta. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin menjadi diri sendiri dan menjauhkan kecenderungan suka meniru dan sekadar ikut-ikutan. Bertumbuh menjadi dewasa dan mandiri berarti semakin mengenal diri, semakin jujur dengan diri sendiri, semakin otentik dan menjadi semakin unik tak terbandingkan.

Proses pembelajaran seorang anak manusia memungkinkan dirinya mengalami berbagai “keajaiban”. Ia mengalami transformasi diri, dari belum/tidak mampu menjadi mampu. Dan transformasi diri secara “ajaib” itu seharusnya terus (atau dapat) terjadi sepanjang hayat, asalkan ia tidak berhenti belajar.
1.d. Belajar Tanpa Henti

Persoalannya adalah, sebagian besar manusia tidak mendisiplinkan dirinya untuk tetap belajar tanpa henti. Sebagian besar manusia berhenti belajar setelah “merasa dewasa”. Sikap gede rasa ini umumnya disebabkan oleh “kebodohan” yang bersifat sosial dan mental/psiko-spiritual. Sebagian orang merasa telah dewasa karena telah berusia di atas 17 atau 21 tahun, telah selesai sekolah atau kuliah, telah memiliki gelar akademis, telah memiliki pasangan hidup (kawin), telah memiliki pekerjaan dan jabatan yang memberinya nafkah lahiriah, telah beranak pinak, telah kaya rata, dst. Hal-hal itu membuat mereka berhenti belajar, sehingga tidak lagi mengalami keajaiban –keajaiban dalam kehidupannya.

Dengan merasa dewasa seperti itu, maka proses “pembodohan” dan bahkan “pembinatangan” (bahasa halusnya dehumanisasi) dimulai.

Sebagai contoh, seorang yang merasa telah tamat dari sekolah dan universitas, sudah pasti merasa mampu mendengarkan. Ia kemudian berhenti dalam arti tidak lagi belajar untuk bersungguh-sungguh mendengarkan. Mendengarkan (hearing), misalnya, harus dibedakan dengan mendengarkan atau menyimak (listening). Hearing berhubungan dengan telinga (fisik), sedangkan listening berhubungan dengan aspek non-fisik (social, mental dan spiritual). Listening juga dapat dibedakan antara selective listening, attentive listening dan empathic listening.

Orang-orang yang merasa dewasa juga umumnya mampu berbicara. Akan tetapi mereka sering kali tidak mampu (tidak belajar lagi untuk) menyampaikan isi kepalanya (ide-ide dan gagasan-gagasan brilian) untuk dapat dipahami atau dimengerti oleh orang lain. Mereka sering kali talking, tetapi tidak sampai speaking.

Singkatnya, kebanyakan manusia usia dewasa dan terutama bekas anak sekolahan, hanya besar secara fisik, tetapi secara sosial, mental, dan spiritual mereka “kerdil”. Sekolah dan universitas ternyata “sukses” dalam satu hal : mencetak manusia-manusia yang menjadi tua (growing older). Akan tetapi tidak pernah sungguh-sungguh menjadi dewasa (growing up).
1.e. Belajar kepada siapa saja

Belajarlah suatu ilmu kepada ahlinya siapapun dia. Tentu untuk mengetahui ilmu-ilmu diniyah kita akan belajar kepada ustadz/ulama. Tetapi untuk mempelajari ilmu-ilmu dunia, tidak bermasalah jika kita belajar kepada orang kafir. Sebagian mereka telah lebih dapat mempark-tikkan teori-teori cara hidup daripada orang-orang muslim.

“Hikmah adalah barang hilang milik kaum muslimin. Di mana saja ia ditemukan, kaum muslimin berhak memilikinya.”

Tetapi untuk menjaga aqidah dan fikrah kita, kita harus memiliki keseimbangan antara menggali ilmu dari orang kafir dengan menggali ilmu dari seorang muslim. Jangan sampai ilmu yang kita pelajari dari orang kafir malah menyesatkan aqidah/fikrah kita. Katakanlah jika kita mempelajari sebuah buku tulisan orang kafir maka kita perlu mengimba-nginya dengan mempelajari sepuluh buku karya ulama Islam.
1.f. Tahapan-tahapan pembelajar

Proses pembelajaran bermuara pada tri tugas, tanggung jawab dan panggilan universal untuk semua orang (manusia), yakni :

Pertama, menjadi seorang pembelajar (becoming a learner, learning individual)

Kedua, menjadi seorang pemimpin (becoming a leader). Semua orang adalah pemimpin. Tetapi potensi kepemimpinan dalam diri manusia itu harus diaktualisasikan keluar, direalisasikan, dinyatakan dijadikan factual. Dengan proses pembelajaran, manusia dapat mengaktualisasikan dirinya, sehingga menjadi apa yang disebut “pemimpin”. (becoming a leader, yang menciptakan learning organization)

Ketiga, meenjadi seorang guru (becoming a guru). Saat seseorang telah disebut-sebut sabagai “pemimpin besar” (a great leader), maka ia juga menjadi guru yang menciptakan learning society.
PEMBELAJAR PEMIMPIN GURU
POSISI TINGKAT Dasar Menengah Tinggi
KEBUTUHAN - Fisiologis dan rasa aman

- Keterkaitan dan transedensi diri

- Hari ini
- Rasa memiliki dan rasa berharga

- Keterikatan dan identitas kolektif

- Hari kemarin, kini dan esok
- Aktualisasi diri

- Orientasi dan devosi

- Hari sesudah mati
PENGARUH - Personal

- Individual
- Organisasional

- Struktural
- Nasional-global

- Kultural sampai total
MENGUTAMAKAN - Aktivitas/otot

- Kerja
- Rasionalitas/ budi

- Ilmu
- Moral-spiritualitas

- Iman dan takwa
SUMBER INSPIRASI - Idola dan tokoh yang dikagumi - Sesama dan alam semesta - Diri sendiri dan Tuhan
1.g. Proses-proses Belajar : Pembelajaran, Pengajaran, Pendidikan

Untuk menjadi manusia yang mengetahui dirinya dan mampu mengaktualisasikan dirinya, ada tiga proses yang dapat dilaluinya dimana ketiganya perlu diletakkan dalam perspektif yang selaras dan seimbang. Yaitu pengajaran, pelatihan dan pembelajaran.

Pengajaran kita perlukan untuk dapat memiliki dan memanajemeni pengetahuan (knowledge management), menjadi manusia yang unggul. Pembelajaran kita perlukan untuk dapat membentuk karakter, menumbuhkan budi pekerti dan menjadi manusia otentik. Pelatihan kita perlukan untuk dapat mengembangkan kepribadian, keterampilan, kesiappakaian (siap kerja), mengekspresikan karakter menjadi nyata dan berguna secara praktis bagi kehidupan bersama yang saling bergantung.

Bagan berikut menyajikan ringkasan pemahaman mengenai perbedaan antara pembelajaran, pengajaran dan pelatihan :
PEMBELAJARAN PENGAJARAN PELATIHAN
BASIS UTAMA - Rumah

- Lingkungan hidup

- Masyarakat

- Kelompok informal
- Sekolah

- Akademi

- Universitas

- Organisasi formal (perusahaan)
- Tempat bekerja

- Kantor

- Tempat kursus

- Organisasi non-formal
TUJUAN - Membentuk karakter/watak

- Mendewasakan

- Memandirikan

- Memberdayakan

- Memerdekakan
- Membentuk konsep/teori

- Memberi ilmu (alam, sosial)
- Membentuk perilaku/praktik

- Menerampilkan
MANUSIA SEBAGAI - Esensi yang perlu disadarkan - Gelas kosong yang perlu diisi - Potensi yang perlu dikembangkan
PROSES - Educating

- Olah rasa/hati

- Belajar menjadi

- Informal

- Penyelarasan
- Teaching

- Olah pikir/otak

- Belajar bagaimana belajar dan berpikir

- Formal

- Pembedaan
- Training

- Olah raga/otot

- Belajar melakukan, belajar bagaimana hidup bersama

- Non formal

- Penyamaan
MENYENTUH SOAL-SOAL - Paradigma hidup

- Hati nurani

- Integritas

- Sensitif

- Eksistensial

- Iman
- Sikap hidup

- Akal

- Efektivitas

- Antisipatif

- Konseptual

- Ilmu
- Perilaku/gaya hidup

- Kehendak

- Efisiensi

- Adaptif

- Praktikal

- Perbuatan
HASIL-HASIL - Bermoral

- Berkarakter

- Siap hidup

- Otentik

- Learning individual
- Berpengetahuan

- Berilmu

- Siap belajar

- Unggul

- Knowledge

- Individual
- Berketerampilan

- Berkepribadian

- Siap pakai/kerja

- Kompeten

- Knowledge worker
1.h. Apa yang seharusnya didapat dari pembelajaran ?

Kesalahan terbesar para guru dan dosen, manajer dan eksekutif perusahaan serta para pejabat di lembaga-lembaga pemerintahan, adalah terlalu banyak melakukan pengajaran dan pelatihan, namun hampir tidak pernah melakukan pendampingan (mentorship) terhadap siswa, mahasiswa dan kemudian karyawan atau pegawai negeri, untuk “mengejar” dan mencari jati dirinya sebagai pribadi, lalu sebagai anggota kelompok dan sebagai bagian dari organisasi serta sebagai bagian dari sebuah masyarakat bangsa.

Pendidikan semu telah memberikan sumbagan yang nihil. Terbukti sebuah ilusi skala nasional tak dapat mengklaim mampu memberikan daya tahan ekonomis, daya tahan moral, bahkan daya nalar sekalipun kepada bangsa ini. … tiadanya kemampuan berbuat jujur, berpikir sehat, bertutur sopan mulai dari rakyat sampai elite politik yang berkuasa.

Terdapat perbedaan antara pengetahuan (knowledge) – yang dapat kita peroleh dari lembaga-lembaga pengajaran – dengan pelatihan (skill). Sesuatu yang bersifat keterampilan tidak bisa diperoleh hanya dengan mengakumulasikan pengetahuan, betapapun banyaknya pengetahuan itu. Para penyandang gelar MBA atau bahkan doktor manajemen jelas tahu banyak soal ilmu administrasi dan ilmu manajemen, tetapi belum tentu mampu melaksanakannya, mempraktikkan ilmunya itu dalam situasi nyata. Begitu juga pakar-pakar ilmu politik dan ilmu ekonomi yang kritis ataupun sok kritis, pandai berteori tentang cara mengatur pembagian kekuasaan dan membangun sistem ekonomi, tetapi belum tentu mampu melakukannya bila diberikan kesempatan untuk duduk di pemerintahan.

Seandainya sekolah, pengajaran dan pelatihan itu kita kembalikan kepada (kita selaraskan dengan) kehidupan nyata, maka apakah yang seharusnya kita pelajari ?

Mungkin ini :

- kita akan belajar, bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki, tetapi yang penting adalah siapa diri kita ini sebenarnya (sebagai pribadi, sebagai kelompok, sebagai organisasi, sebagai bangsa);

- kita akan belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi kita, tetapi kita harus bertanggungjawab untuk apa yang telah kita lakukan;

- kita akan belajar, bahwa dua manusia dapat melihat hal-hal yang sama persis, tetapi terkadang dari sudut pandang yang amat berbeda, dan itu manusiawi

- kita akan belajar, bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain itu perlu kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus-menerus

- kita akan belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya;

- kita akan belajar, bahwa kritik yang tulus dari seorang lawan lebih berharga dari pujian palsu seorang kawan;

- kita akan belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat dan pasangan itu, mereka pasti pernah melakukan perasaan kita dan untuk itu kita harus belajar memaafkannya;

- kita akan belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini, semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali kita ingin sakit hati dan dikecewakan;

- kita akan belajar, bahwa kita harus memilih apakah kita menguasai sikap dan emosi, atau kita membiarkan sikap dan emosi itu yang menguasai kita;

- kita akan belajar, bahwa kita punya hak untuk marah tanpa harus menjadi beringas terhadap sesama;

- kita akan belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan adalah kemunafikan psiko-spiritual.

Singkatnya, kita akan belajar, bahwa tugas pertama manusia dalam proses menjadi dirinya yang sebenarnya adalah menerima tanggung jawab untuk menjadi pembelajar bukan hanya di gedung sekolah tetapi terlebih penting lagi dalam konteks kehidupan nyata sehari-hari.

Lebih jauh, belajar di “sekolah besar” kehidupan akan memberi kita kesempatan, antara lain untuk :

- mulai bersikap jujur, pertama-tama terhadap diri kita sendiri;

- mulai menerima tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitas pribadi kita;

- mulai dapat diandalkan dan dipegang kata-katanya;

- mulai mengembangkan kepedulian sosial dan lingkungan;

- mulai bersikap adil kepada sesama tanpa diskriminasi;

- mulai mengembangkan keberanian menyatakan dan mengaktualisasi diri;

- mulai menjadi rasional tanpa harus memutlakkan buah pikiran kita yang relatif itu;

- mulai rendah hati dan menyadari keterbatasan diri;

- mulai pendisiplinan diri (pengharapan, hasrat, energi, waktu);

- mulai bersikap optimis tanpa menjadi naïf;

- mulai menyatakan komitmen dan menepatinya

- mulai memprakarsai sesuatu yang baik sekalipun tidak profitable;

- mulai bertekun (perseverance) dalam mengerjakan sesuatu;

- mulai mampu bekerjasama dengan orang-orang yang berbeda dengan kita;

- mulai saling melayani satu sama lain;

- mulai memberikan dorongan dan membangkitkan hati yang lesu

- mulai memaafkan dan mengampuni kesalahan orang;

- mulai murah hati dan senang berbagi;

- mulai memanfaatkan peluang dan kesempatan;

- mulai menghayati persaudaraan sesama umat, sesama bangsa dan sesama manusia.
1.i. Aspek-aspek yang Didewasakan dari Pembelajaran
PARADIGMA SIKAP PERILAKU
BASIS UTAMA - Rumah & mas-yarakat sekitar

- Kesadaran jiwa

- Moral-spiritualitas
- Sekolah

- Pengetahuan budi

- Rasionalitas
- Kantor dan tempat bekerja

- Pengalaman hidup

- Aktivitas
METAFORA - Biji

- Fondasi bangunan
- Isi

- Rangka bangunan
- Kulit

- Bangunan fisik
PROSES - Inside out

- Pembelajaran

- Belajar menjadi

- Memurnikan hati
- Outside in

- Pengajaran

- Belajar tentang

- Menyehatkan akal
- Outside in

- Pelatihan

- Belajar/praktik

- Mengendalikan hasrat
PERUBAHAN - Paradigma hidup

- Makna hidup

- Makna kerja

- Misi hidup
- Sikap hidup

- Konsep hidup

- Standar kerja

- Visi hidup
- Perilaku hidup

- Cara/gaya hidup

- Metode kerja

- Strategi hidup
HASIL - Karakter

- Kearifan

- Manusia baru
- Konsep

- Kepintaran

- Pemikiran baru
- Kepribadian

- Keterampilan

- Gaya hidup baru
1.j. Penutup

Ilmu dan kefahaman adalah syarat mutlak yang harus dimiliki setiap muslim dalam segala aktivitas kehidupannya. Kebutuhan akan ilmu ini (baik kualitasnya maupun kuantitasnya) akan semakin meningkat tatkala seorang muslim telah memilih dakwah sebagai jalan kehidupannya.

Kekosongan akal dan hati seseorang akan ilmu dan kefahaman ini merupakan salah satu induk berbagai penyakit ruhiyah (syubhat, syahwat, futur, dll). Karena itu pemuda da’i harus mendidik dirinya untuk terus-menerus belajar.

* Jika para da’i membaca lebih banyak, maka mereka akan memimpin umat Islam
* Jika umat Islam membaca lebih banyak lagi, maka ini akan memimpin peradaban umat manusia.
* Saat ini : orang-orang Barat banyak membaca, sedang umat Islam sedikit membaca !

Maraji’

Imam Nawawy, Riadhus Shalihin

Andrias Harefa, Menjadi Manusia Pembelajar

Pendekatan dan Model Pembelajaran

Strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

A. Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003), mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) Exposition-Discovery Learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)

Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

B. Berkenaan dengan model pembelajaran,

Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.

Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Active Learning

A. Pengertian Active Learning

Berdasarkan buku Active Learning (Melvin L. Silberman: 2009) yang dinamakan belajar yang aktif itu ialah yang setidaknya harus dapat melibatkan dan memperhatikan lima faktor utama yaitu: pengolahan kerja otak, gaya belajar, sosial proses belajar, kehawatiran tentang belajar aktif dan perlengkapan belajar aktif (sarana prasarana).

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa dalam uapaya menumbuhkan atau menciptakan belajar aktif itu ialah banyak hal yang perlu kita perhatikan dan persiapkan. dalam buku ini sangat detail dipaparkan mengenai langkah-langkah upaya untuk menciptakan suasana yang benar-benar tercipta belajar aktif, mulai dari tata letak menyusun kelas, cara agar mendapatkan partisipasi dari siswa (objek), cara agar mendapatkan mitra belajar, cara bagaimana agar dapat mengetahui harapan siswa, cara mengefektifkan siswa, strategi membuat kelompok, cara menyeleksi ketua, mempasilitasi ketika diskusi, seni peran, penghematan waktu penanganan jika keadaan sulit diatur atau terjadi suasana yang gaduh (ribut).

Jadi dapat disimpulkan aktif learnig itu ialah upaya menciptakan gaya dan pola belajar mengajar atau pola pembelajaran yang dapat melibatkan interaksi yang tidak haya searah antara murid dan siswa namun dapat terjalin secara keseluruhan dan guru tidak lagi sebagai yang mentransper ilmu melainkan sebagai kawan (pengarah) kegiatan pembelajaran tersebut. sehingga siswa tidak akan haya duduk tetapi bisa aktif dengan mau bertanya, mencari, mengomentari, bahkan menjelaskan menurut apa yang telah dia ketahui dan pahami.



B. Komponen-Komponen (Syarat) Active Learning

Sebagaimana telah diketahui pada bahasan awal bahwa kegiatan belajar aktif itu ialah yang banyak melibatkan elemen lain yang senantiasa akan membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman, aktif, kondusif sehingga teraarah.

Dari banyak faktor yang senantiasa mesti terlibat dalam pembelajaran agar tercipta belajar yang aktif, kurang lebih secara ringkasnya ternagi:

a. Individu siswa (sebagai objek) pembelajaran,

Dalam hal ini individu seorang murid itu merupakan hal yang paling dasar, sehinga harus benar-benar memiliki motovasi belajar yang kuat untuk ingin dan semangat belajar karena apapun dan sebesar bagaimanapun perhatian (pengaruh) dari luar jika tida didasari dengan semangat dari dalam dirinya siswa itu sendiri maka pembelajaran tidak akan aktif dan jauh kemungkinan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam hal ini faktor keluarga yang membverikan pelajaran utama sebelum di sekolah dan yang mencetak kearah mana diarahkanya seorang anak harus benar-benar fahan dan mampu memberikan arahan, bimbingan, dan melayani akan kemauan sang anaknya tersebut.

b. Guru sebagai dalang (sutra dara)

Guru sebagai dalang atau dapat dikatakan sutradara dalam pembelajaran aktif harus dapat menyajikan pelaksanaan proses pembelajaran sebagus dan semenarik mungkin, sehingga seorang guru harus benar-benar propesional dibidangnya itu baik secara kualifikasi mapun secara profesi dimana didalamnya harus faham mengenai psikologi anak, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan profesional seorang guru diantaranya harus mengetahui, metode, strategi, penbekatan, teknik dan taktik, dan yang lainya.

c. Proses (suasana) belajar

Proses atau suasana belajar ini berkaitan dengan kemampuan guru menguasai sussana dan memahami keadaan kelas ataupun kondisi murid itu sendiri agar dapat memilah dan memilih metode, media, taktik dan gaya belajay yang memang cocok dengan sussana atau kondisi tersebut. setelahnya faham mengenai hal itu, guru juga harus bisa menjalankannya dengan baik dan menyenakangkan mulai dari awal sampai bhelajar berakhir.

d. Sarana dan prasarana belajar

Dalam menciptakan kegiatan belajar yang aktif disini diutamakan sarana penunjang untuk kelancaran dan keefektipan belar tercapai, maka sega sesuatu yang memang dibutuhkan haruslah tersedia baik itu yang sifatnya indor ataupun out dor. Namun, jika masalahnya hal tersebut sebagai media yang dibutuhkan tidak ada maka disinilah dibutuhkan akan kekreatifan seorang guru agar dapat mengemas psembelajaran supaya tetap berjalan dengan kondusif dan aktif.



C. Waktu Pelaksanaan Active Learning

Kalau ditanya kapan pembelajaran aktif tersebut harus diciptakan? jawabanya ialah ketika terjadi suasan belajar atau ketika pembelajaran tidak aktif (statis) atau juga bisa disebut ketika kegiatan pembelajaran yang pasif.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa yang dinamakan kegiatan belajar atau pombelajaran dimanapun dan kapanpun itu idealnya mesti tercipta suasana belajar yang aktif terutama siswa sebagai objek dari pembelajaran tersebut. Namun, memang hal itu sangat sulit karena kebanyakan yang terjadi banyak guru yang kurang mampu menciptakan suasana yang aktif tersebut, sehingga pembelajaran itu berjalan monoton atau bahkan menurun. Kalau dilihat secara tahapan atau urutannya perlu dijaga agar senantiasa aktif itu ialah:

a) Sejak dimulai belajar,

Seorang guru diusahakan dapat merangsang siswa agar dapat aktif sejak awal. Mengapa demikian? karena jika sudah aktif sejak awal akan lebih mempermudah penyampaian materi selanjutnya akan terarah dengan baik dan memberikan warna semangat dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

Dalam bukunya Active Learning ini Melvin L. Silberman menjelaskan secara detail langkah-langkah dalam menciptakan suasana belajar siswa aktif sejak awal dimana secara garis besarnya terdiri dari tiga yaitu:

Ø Strategi pembentukan tim,

Ø Strategi penilaian sederhana, dan

Ø Strategi pelibatan belajar langsung.

Dimana ketiga langkah tadi memiliki cara-cara atau langkah-langkah masing-masing.

b) Ketika sedang berjalan (proses/tengah) waktu belajar

Sangat perlu sekali bagi seorang guru untuk dapat mengupayakan agar dapat merangsang siswa (anak didiknya) guna mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif dengan metode dan strategi yang bagaimanapun selagi dapat membantu lancarnya proses belajar dan pembelajaran.

Dalam upaya mewujudkan hal ini, setidaknya ada delapan lagkah yang mesti diperhatikan yaitu:

1. Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

2. Mengstimulasi diskusi kelas,

3. Pengajuan pertanyaan,

4. Belajar bersama,

5. Pengajaran sesame siswa,

6. Belajar secara sendiri,

7. Belajar yang efektif, dan

8. Pengembangan keterampilan.

Kedelapan langkah tadi memiliki langkah-langkah lain yang sifatnya lebih teknisi dan detail sebagai penjelasan dari kedelapan langkah tadi diatas.

c) Akhir dari pembelajaran,

Adapun yang dimaksud dengan belajar harus aktif pada akhir ialah bagaimana seorang guru mampu mengstimulus dan memberikan trik-trik agar apa yang telah disampaikan atau telah mereka pelajari itu tidak menjadi lupa kembali atau terlupakan oleh siswa tersebut.

Dalam kaitan dengan masalah ini, untuk dapat mempertahankan agar selalu teringat oleh siswa, Melvin L. Silberman membagi kedalam empat tahapan. Yaitu:

ü Strategi peninjauan kembali,

ü Penilaian sendiri,

ü Perencanaan masa depan, dan

ü Ucapan perpisahan.



D. Macam-Macam Active Learning

Sebagaimana yang terdapat dalam bukunya Melvin L. Silberman, dia mengemukakan bahwasanya ada 101 cara atau metode dalam mengupayakan pembelajaran atau siswa belajar dengan aktif. Namun, jika dikelompokan sesuai dengan isi dalam buku ini terbagi menjadi 15 yaitu:

1) Strategi pembentukan tim,

2) Strategi penilaian sederhana,

3) Strategi pelibatan langsung,

4) Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

5) Mengstimulasi diskusi kelas,

6) Pengajuan pertanyaan

7) Belajar bersama,

8) Pengajaran sesame siswa,

9) Be;lajar secara mandiri,

10) Belajar yang efektif,

11) Pengembangan keterampilan,

12) Strategi peninjauan kembali,

13) Penilaian sendiri,

14) Perencanaan masa depan,

15) Ucapan perpisahan.



E. Tujuan Active Learning

Tujuan dari cara belajar siswa aktif (Active Learning) ialah agar dapat menjadikan siswa aktif dan kondusif ketika belajar, terwujudnya suasana belajar yang dinamis, efektif, evesien serta jauh dari suasana yang menjenuhkan dan membosankan.

Jika dilihat dari pemaparan Melvin L. Silbermen, dalam bukunya ini, menjelaskan tujuan Active Learning kurang lebih sebagai berikut:

Ø Menjadikan siswa aktif sejak awal (mulainya pembelajaran)

Ø Membantu siswa mendapatkan pengajaran, keterampilan, dan sikap secara aktif

Ø Mempertahankan agar belajar tidak terlupakan.

Selain dari itu juga, dengan memodivikasi ungkapan konfusius, dia menjelaskan tujuan dari active learning ialah agar dapat mengingat, memahami, terampil dan menguasai.



F. Cara Menumbuhkan Active Learning

Jika dilihat dari tulisan yang terdapat dalam buku ini, pada dasarnya untuk menjadikan siswa aktif itu ialah siswa harus banyak mengerjakan tugas. Maka agar tecapai hal itu, ialah dengan banyak memberikan banyak tugas terhadap siswa. Lebih luasnya semua yang terdapat dalam isi buku ini yaitu ada 101 cara atau trik-trik agar dapat menumbuhkan belajar siswa yang aktif.

G. Kesimpulan

Dari makalah ini mengguar isi buku Active Learning karya Melvin L. Silbermen dapat disimpulkan bahwa Active Learning merupakan pola pembelajaran yang harus dapat melibatkan secara kolektif antara kerja otak siswa, gaya belajar, sosial belajar dan sarana pendukung belajar yang akan membantu pada terbentuknya pola belajar yang aktif (Dinamis). Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya terdapat 101 metode agar dapat menciptakan cara belajar siswa aktif.

Dalam buku ini juga dijelaskan bahwasanya belajar siswa yang aktif itu ialah yang bukan hanya sesaat namun sejak dimulai, sedang berlangsung dan juga ketika akhir dari pembelajaran. Dengan arahan memulai dengan semangat, ketika berlangsung berjalan dengan nyaman dan tertanam hasilnya sampai berakhir dari kegiatan belajar tersebut.

Rangkuman Filsafat Ilmu

Pengetahuan

Pengetahuan ialah semua yang diketahui. Dilihat dari segi motifnya, pengetahuan diperoleh melalui dua cara : Pertama : Pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa usaha, tampa keingintahuan dan tanpa disengaja. Kedua : Pengetahuan yang didasari motif ingin tahu, diperoleh lewat belajar. Rasa ingin tahu ada pada manusia sejak ia diciptakan dan rasa ingin tahu itu adalah takdir.



Pengetahuan manusia dibagi kepada :

1. Pengetahuan Sains : Objeknya empiris, paradigmanya sains, menggunakan metode ilmiah dan kriterianya rasional-empiris.

2. Pengetahuan Filsafat : Objeknya abstrak-rasional, paradigmanya rasional, menggunakan metode rasional dan kriterianya rasional.

3. Pengetahuan Mistik : Objeknya abstrak supra-rasional, paradigmanya mistik, menggunakan metode latihan/percaya dan kriterianya rasa, iman, logis dan kadang empiris.



Rasional dan Logis

Rasional menurut Kant : kebenaran akal yang dapat diukur dengan hukum alam.

Logis terbagi kepada dua : Pertama : Logis-rasional, yaitu sebagaimana kebenaran rasional. Kedua : Logis-supra-rasional, yaitu pemikiran akal yang kebenarannya mengandalkan argumen.

Logis ialah masuk akal dan logis mencakup rasional dan supra-rasional. Istilah logis bisa dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional.

Rasional ialah masuk akal dan sesuai dengan hukum alam. Sedangkan supra-rasional adalah yang masuk akal sekalipun tidak sesuai dengan hiukum alam.



BAB II

PENGETAHUAN SAINS

A. Ontologi Sains

1. Hakikat Sains

Pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional dan empiris. Masalah rasional adalah menguji kebenaran hipotesis dengan akal. Apabila mencukupi dari segi kerasionalannya (masuk akal) maka hipotesis itu sah. Maksud rasional adalah adanya hubungan sebab akibat. Masalah empiris adalah dengan menguji hipotesis dengan prosedur metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).

2. Struktur Sains

Pada garis besarnya sains terbagi kepada dua : sains kealaman dan sains sosial. Dalam struktur sains dijelaskan dalam bentuk nama-nama ilmu.

1) Sain Kealaman

Astronomi, Fisika, Kimia, Ilmu Bumi, Ilmu Hayat,

2) Sains Sosial

Sosiologi, Antropologi, Psikologi, Ekonomi dan Politik.

3) Humaniora sebagai pelengkap

Seni, Hukum, Filsafat, Bahasa, Agama dan Sejarah.



B. Epistemologi Sains

1. Objek Pengetahuan Sains

Objek pengetahuan sains ialah semua objek yang empiris. Jujun Suriasumantri mengatakan bahwa objek kajian sains adalah semua objek yang berada dalam ruang lingkup pengalaman manusia. Yang dimaksud dengan pengalaman manusia disini adalah pengalaman indra. Objek yang dapat diteliti oleh sains banyak sekali, diantaranya : alam, manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Sains

Cara memperoleh pengetahuan sains adalah lewat akal. Karena akal dianggap mampu dan karena akal setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan itu adalah logika alami yang ada pada akal setiap manusia. Akal adalah alat atau sumber yang paling disepakati.

Berkembangnya sains didorong oleh berkembangnya paham Humanisme. Humanisme ialah paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Paham ini telah lahir pada zaman Yunani Kuno. Kemudian humanisme melahirkan rasionalisme. Rasionalisme yaitu paham yang mengatakan bahwa akal itulah pencari dan pengukur pengetahuan. Empirisme yaitu paham yang mengajarkan bahwa yang benar ialah yang logis dan ada bukti empiris. Positivisme ialah paham yang mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris dan terukur. Metode Ilmiah adalah logico-hypotetico-verificatif (buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis dan ajukan bukti empirisnya).

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sains

Ukuran kebenaran sains adalah benar jika dapat ditemukan bukti empiris. Hipotesis yang terbukti maka menjadi teori kemudian didukung bukti empiris maka teori itu menjadi hukum dan disebut aksioma.



C. Aksiologi Sains

1. Kegunaan Pengetahuan Sains

Sekurang-kurangnya ada tiga kegunaan teori sains :

a) Teori sains sebagai eksplanasi

b) Teori sains sebagai peramal

c) Teori sains sebagai alat pengontrol

2. Cara Sains Menyelesaikan masalah

Cara sains menyelesaikan masalah adalah dengan cara : mengidentifikasi masalah, mencari teori sebab-akibat dan membaca literatur.

3. Netralitas Sains

Menurut Herman Soewardi, sains itu tidak netral atau tidak bebas nilai. Karena apabila sains netral maka ia akan menimbulkan 3R yakni resah, renggut dan rusak.

BAB III

PENGETAHUAN FILSAFAT

A. Ontologi Filsafat

1. Hakikat Pengetahuan Filsafat

Poedjawijatna (1974 : 11) mendefinisikan filsafatn sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka. Secara singkatnya bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh lewat jalan berfikir.

2. Struktur Filsafat

Struktur filsafat atau sistematika filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu :

1) Ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu), ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu.

2) Epistemologi, membicarakan cara memperoleh pengetahuan.

3) Aksiologi, membicarakan kegunaan pengetahuan tersebut.



1. Epistemologi Filsafat

1. Objek Filsafat

Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Sedangkan objek penelitian filsafat adalah meneliti objek yang ada dan mungkin ada.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat

Cara memperoleh pengetahuan filsafat adalah dengan cara berfikir secara mendalam, yang dimaksud dengan berfikir mendalam yakni berfikir tanpa bukti empirik.

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yang logis tidak empiris.



1. Aksiologi Filsafat

Untuk melihat kegunaan filsafat dapat dilihat pada tiga hal : a) sebagai kumpulan teori b) metode pemecahan masalah c) sebagai pandangan hidup.

1. Kegunaan Pengetahuan Filsafat

a) Kegunaan filsafat bagi Akidah

Filsafat dapat berguna untuk memperkuat keimanan didasari dengan argumentasi aqliyah.

b) Kegunaan filsafat bagi Hukum

Kaidah pembuatan hukum (Ushul Fiqh) dibuat berdasarkan teori-teori filsafat. Karena itu mantiq (logika) amat penting bagi ulama Ushul Fiqh.

c) Kegunaan filsafat bagi Bahasa

Filsafat amat berperan dalam menentukan kualitas bahasa. Tanpa peran serta filsafat (logika), kekeliruan dalam bahasa tidak mungkin dapat diperbaiki.

Kegunaan lain dari filsafat yakni sebagai methodology. Maksudnya, sebagai metode dalam menghadapi dan memecahkan masalah.

2. Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah

Sesuai sifatnya, filsafat menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Mendalam berarti mencari asal masalah dan universal berarti melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya agar dapat diselesaikan secara efektif.

Netralitas Filsafat

Jika anda berpendapat bahwa logika adalah bagian dari filsafat, maka anda harus berpendapat bahwa filsafat adalah netral. Akan tetapi filsafat pada dasarnya tidak netral karena filsafat adalah pemikiran seseorang (subyektif) maka hal ini menunjukan bahwa pemikirannya berpihak pada pemikir.

BAB IV

PENGETAHUAN MISTIK





1. Ontologi Pengetahuan Mistik

1. Hakikat Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami oleh rasio. Pengetahuan mistik ialah pengetahuan supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2. Struktur Pengetahuan Mistik

Dari segi sifatnya mistik dibagi dua : mistik biasa yaitu mistik tanpa kekuatan tertentu, contoh : tasawuf dalam Islam dan mistik magis. Mistik magis dibagi lagi menjadi dua yaitu mistik magis putih, seperti : mukjizat, karomah dll. Mistik magis hitam, seperti : sihir.



1. Epistemologi Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa, melalui hati sebagai alat merasa.

1. Objek Pengetahuan Mistik

Objek pengetahuan mistik adalah objek yang abstrak supra-rasional, seperti alam gaib, malaikat, surga, neraka dsb.

2. Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik

Cara memperoleh pengetahuan mistik yaitu dengan jalan riyadhah/latihan.

3. Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik

Adakalanya ukuran kebenaran pengetahuan mistik adalah kepercayaan dan adakalanya adalah bukti empiris.



1. Aksiologi Pengetahuan Mistik

1. Kegunaan Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik amat subyektif, yang paling tahu penggunaannya adalah pemiliknya.

2. Cara Pengetahuan Mistik Menyelesaikan Masalah

Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi juga tidak melalui proses rasio. Hal ini berlaku bagi mistik putih dan mistik hitam.

Netralitas Pengetahuan Mistik

Pengetahuan mistik dengan mudah dilihat bahwa ia tidak netral karena isi ajaran agama yang jelas tidak netral dan bagi mistik magis selalu memiliki sifat individualistik, karena ia subyektif.



Beberapa Contoh Pengetahuan Mistik :

1) Mukasyafah

Ontologi :

Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutup diri. Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang dan dalam Tuhan. Suatu pengetahuan hakiki. Berbeda dengan sains dan filsafat, mukasyafah justru diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu manusia – Tuhan.

Epistemologi :

Metode Penyingkapan Tabir

Menurut Ibnu Sina, dibagi dua tahapan dalam menyingap tabir : Iradah (kehendak) dan Riyadhah (latihan). Iradah yakni munculnya hasrat berpegang teguh pada jalan yang membimbing menuju Tuhan. Dan riyadhah adalah latihan yang bertujuan agar menyingkirkan segala sesuatu selain Allah, menundukan jiwa yang cenderung berbuat jahat dan melembutkan jiwa batiniah.

Aksiologi : Mampu merasakan kedekatan bahkan penyatuan diri dengan Tuhan.

2) Ilmu Laduni

Ilmu laduni yaitu ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran. Yakni ilmu yang diperoleh langsung melalui ilham, iluminasi atau inspirasi dari sisi Tuhan.

Adapun cara memperolehnya yatiu dengan jalan riyadhah (latihan).

Kegunaan ilmu laduni diantaranya adalah agar dapat memahami ilmu dengan tepat, dapat memahami dan menguasai suatu ilmu tanpa harus mempelajarinya dan lain sebagainya.

3) Saefi

Saefi yaitu ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan kepada Allah. Pada dasarnya ilmu ini diperoleh seperti memperoleh pengetahuan hikmah. Sedangkan kegunaannya agar doa cepat terkabul.

4) Jangjawokan

Jangjawokan yaitu semacam ucapan yang memiliki kekuatan magis, yang bacaannya campuran antara bahasa Sunda atau Jawa. Ilmu ini diperoleh dengan cara mendatangi guru yang bersangkutan. Biasanya orang tua yang sepuh memilki ilmu tersebut. Kegunaannya pun biasanya untuk hal-hal yang baik.

5) Sihir

Sihir menurut Muhammad bin Wahab (at-Tauhid alladzi huwa Haqqullah ‘ala al-‘abid, 1969 : 48) adalah azimat-azimat, mantra-mantra atau perbuatan tertentu dengan bantuan setan yang mempengaruhi hati dan badan, sehingga menyebabkan seseorang saki, mati atau terpisah dari keluarganya.

Cara memperolehnya : Bersumpah atas nama jin, menyembelih sembelihan, melakukan kenistaan, menuliskan ayat Al-Quran menggunakan najis, menuliskan ayat Al-Quran dengan susunan sungsang, menujum menggunakan bintang, melihat melalui telapak tangan, menggunakan benda bekas pakai.

Adapun kegunaannya tergantung pada orang yang memanfaatkannya. Biasanya ilmu ini digunakan untuk kejahatan.

6) Ilmu Kebal

Ilmu kebal yaitu ilmu tentang cara-cara menjaga diri tanpa bantuan alat fisik agar tidak mempan senjata tajam atau benda lain yang dapat melukai.

Ilmu kebal diperoleh dengan cara supranatural atau lewat jalan mistik.

Kegunaannya ialah untuk menjaga diri dari kecelakaan yang diakibatkan oleh kejahatan orang lain.

7) Santet

Santet yaitu suatu pengetahuan tentang makhluk gaib yang dapat diperintah untuk mempengaruhi korban dengan menggunakan simbol-simbol dan ritual-ritual.

Ilmu ini diperoleh dengan jalan ritual. Kegunaannya adalah untuk melaksanakan niat buruk seseorang kepada orang lain.

8) Pelet

Pelet yaitu tindakan yang dilakukan untuk menarik, mengalihkan rasa cinta seseorang kepada pemelet tanpa disadari sepenuhnya oleh korban.

Cara memperolehnya adalah dengan berguru kepada kiyai, ustadz atau dukun. Kegunaanya adalah tergantung niat pelaku (pemelet).

9) Debus

Debus ialah ilmu kekebalan yang beraasal dari wilayah Banten. Dalam prakteknya, debus memang sesuatu yang luar biasa, seperti :

* Memakan kaca tetapi tidak luka
* Kulit tahan disiram air keras
* Tahan ditusuk dengan jarum
* Ditusuk atau digok tidak luka

Ada dua hal yang perlu dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan debus, yaitu :

1. Badan harus suci dari hadats kecil dan besar dan harus suci dari dosa, terutama dosa besar.

2. Dituntut adanya kebulatan tekad dan keyakinan dalam hati.

10) Tentang Jin

Jin adalah makhluk yang terletak antara manusia dan roh, dinamakan demikian karena tertutup dari pandangan mata. Sedangkan iblis adalah keturunan jin. Perbedaan jin dan setan adalah setiap setan pasti jin tetapi tidak setiap jin adalah setan.

Allah menciptakan jin dari api jauh sebelum manusia diciptakan. Jin terbuat dari api yang sangat panas. Populasinya sangat banyak melebihi populasi manusia. Dadalam Al-Quran diterangkan bahwa jin itu ada yang mukmin dan ada yang kafir. Sebagaimana surat Jinn ayat 14-15. sedangkan menurut sifat dan kemampuannya, jin terbagi kepada tiga golongan : kelompok jin yang bisa terbang dan memiliki sayap, kelompok jin yang berupa ular dan kalajengking, dan kelompok yang suka berubah-ubah.

11) Nyambat

Nyambat yaitu memanggil dan menghadirkan roh melalui suatu ritual dengan mengucapkan bacaan-bacaan tertentu.

Adapun jenis-jenis nyambat yaitu : Asrar, Abdul Jabar, Pajajaran, Kuda Lumping, Kasurupan, Tenaga gaib, Perdukunan dan ramal.

12) Ilmu Kanuragan

Yaitu ilmu bela diri, dapat berbentuk kekuatan dari dalam dan dapat juga datang dari luar, keduanya merupakan hasil dari latihan fisik dan riyadhah.

Konsep Pendidikan KH. Abdurrahman Wahid GUSDUR

Biografi K.H Abdul Wahid Hasim
Abdul Wahid Hasim lahir pada tanggal 1 Juni 1914 atau bertepatan dengan tanggal 5 Rabi’al-Awal 1333 di Jombang, Jawa Timur. Dia adalah putra Kyai haji (K.H) Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Nama yang diberikan ketika ia lahir adalah Muhammad Asy’ari, meniru nama kakenya. Tetapi karena ia sering sakit, maka nama itu diganti dengan Abdul Wahid, nama salah seorang nenek moyangnya. Selama masa kecilnya ia dipanggil oleh ibunya dengan Mudin, sedang santri ayahnya memanggil dia dengan panggilan Gus Wahid.
Tahun dimana Wahid lahir, menurut Dhofier, mempunyai nilai sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Mendasarkan argumentasinya dari analisis yang dikemukakan oleh Berhard Dahm, Dhoifier menyebutkan bahwa Budi Utomo dan Indische Partiji, dua organisasi yang diakui sebagai pelopor dalam pendirian organisasi modern yang bertujuan menumbuhkan kesadaran nasional, telah gagal menjadi organisasi massa yang besar. Berdasarkan fakta yang ada, semejak pendirian kedua organisasi tersebut, Budi Utomo hanya mampu merekrut sekitar 10.000 anggota, sedang Indische mempunyai angota sekitar 7.500 orang. Kegagalan mereka dalam mobilisasi masyarakat secara luas disebabkan, diantarnya, kurang mempunyai para pemimpin Budi Utomo untuk mengidentifikasi kemauan masyarakat secara umum, sedang Indische Partij lebih banyak memfokuskan perhatiannya kepada komunitas Eurasian dan cina.
Organisasi pertama yang berhasil menjadi organisasi massa yang besar adalah Sarekat Islam (SI). Sebelum SI berdiri, telah berdiri sarekat dagang Islam (SDI). yang didirikan oleh Samanhudin pada tahun 1911. Organisasi ini pada mulanya bergerak dalam bidang perdagangan. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 10 september 1912, organisasi ini dirombak dan diganti dengan nama sarekat Islam dengan HOS Tjokroaminoto sebagai ketuanya. Organisasi ini memperluas sasaran perjuangannya dengan mengkonsentrasikan pada masalah politik dan sosial, disamping tetap bergerak dalam bidang ekonomi. Pada awal berdirinya, organisasi ini hanya mempunyai 4.500 anggota.dua tahun kemudian, tahun dimana Wahid Hasim Lahir, keanggotaannya berlipat sampai berjumlah 366.913 orang.
Kondisi politik dan sentimen keagamaan yang begitu kental pada waktu itu mungkin tidak mempunyai arti bagi anak-anak akan tetapi kondisi waktu itu mempunyai arti sangat penting bagi Wahid Hasim sebagai anak Ulama yang terkenal dan khasismatik, K.H. Hasim Asy’ari yang mana semua pemimpin nasional, seperti Jendral Sudirman dan Bung Tomo seiring bersilaturahim guna mendapatkan nasehat dan petunjuk atas persoalan agama dan politik.
Melacak nenek moyang baik dari segi garis Ayah maupun Ibu, Wahid Hasim berasal dari keluarga yang agamis. Ini berarti bahwa dia tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang agamis. Ibunya, Nafiqah, adalah anak dari Kyai Ilyas seorang kyai yang terkenal dari pesantren Sewulan Madium, sedang dari garis keturunan ayah, dia merupakan keturunan dari ulama yang sangat dihormati. Ayah, kakek dan kakek buyutnya adalah ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar ilmu agama dan yang mengilhami berdirinya pesantren di Pulau Jawa. Ayah Wahid Hasim sendiri, Hasim Asy’ari, adalah pendiri pesantren Jombang. Kakeknya, K.H. Asy’ari pendiri pesantern keras Jombang. Sedangkan kakek buyutnya, K.H. Usman, selain dikenal sebagai pendiri pesantren gedang, juga dikenal sebagai ulama yang mengenalkan ajaran tarekat Naqsabandiyah di Jombang, bahkan pesantrennya sebagaimana disinyalir oleh Gus Dur, sebagai pusat gerakan sufi di Jawa Timur.
Sebagai mana seorang Kya’i Hasim Asy’ari menaruh perhatian yang luar biasa dalam pendidikan agama bagi putra-putrinya dengan pertimbangan bahwa pendidikan sebagai elemen dasar dalam pembentukan kepribadian yang baik semejak kecil, Wahid Hasim belajar langsung bimbingan ayahnya. Selain belajar bahasa Arab, ia juga mempelajari yang lainnya, misalnya membaca al-Qur’an sebagai tahap awal dari sitem pembelajaran pesantren. Pada usia 7 tahun Wahid Hasim mulai belajar teks-teks bahasa Arab klasik yang bermaktub dalam kitab kuning.
Perkembangan pengatahuan yang diperoleh Wahid Hasim selalu menjadi perhatian ayahnya. Ketika Wahid Hasim sudah cukup dalam memahami agama ayahnya mengirim dia untuk lebih mendalami ilmu-ilmu agama diberbagai pesantren. Pada usia 13 tahun dia meninggalkan pesantren Tebu Ireng. Pesantren yang pertama dikunjunginya ialah pesantren Siwalan Panji, Siwoardjo, pesantren dimana ayahnya pernah belajar dibawah bimbingan Kya’I Hasim dan kya’I Chozin Panji.
Pada tahun 1936 dia mendirikan perpustakaan dan berdirinya organisasi Ikatan Pelajar Islam (IKPI). Pada tahun 1938, Wahid Hasim ikut terlibat organisasi NU. Dan kemudian ketua cabang NU di Jomlang. 2 tahun kemudian ia dipromosikan menjadi pengurus besar NU tepatnya di Departemen Pendidikan (Ma’arif). Di lembaga inilah ia mempropagandakan ide-ide yang berkaitan dengan kurikulum pesantern dan mereorganisasi-organisasi NU. Wahid Hasim peduli terhadap perpolotikan saat itu, khususnya pada akhirnya penjajahan Belanda dan datangnya bangsa Jepang. Dia terlibat kedalam dalam menetang adanya penjajahan. Pada tahun 1940 ia terpilih menjadi ketua MIAI (Majlis al-Islam al-Ala Indonesia) sebuah pederisasi organisasi Islam pada tahun 1937, dimana NU dan Muhammadiyah menjadi tulang punggungnya. Bersama-sama dengan GAPI (Gabungan Politik Indonesia).
Setelah merdeka 1945, Wahid Hasim bersama ulama-ulama dari kalangan moderis maupun tradisionalis menyenggarakan Muhtawar Indonesia di Yogyakarta. Ia juga dipilih menjadi ketua Masyumi, menjadi mentri agama dalam tiga kabinet (Hatta, Natsir dan Sukirman) dan gagasan ia untuk mendirikan Perguruan Agama Islam Negeri (PTIN) yang kemudian diubah menjadi IAIN.
Ketika NU di bawah kepemimpinanya memutuskan keluar (melepaskan diri) dari Masyumi dan mendeklarasikan berdirinya NU sebagai partai politik pada tahun 1952, Wahid Hasim mencurahkan seluruh tenaganya bagi perkembangan partai tersebut. Satu tahun kemudian, tepatnya tanggal 19 April 1953, ia meninggal dunia akibat tabrakan mobil ketika akan menghadirinya rapat NU di Bandung. Dikuburkan di tanah kelahirannya, Jombang dia meninggalkan istri, Solihah, dan enam orang putra. Putra tertuanya adalah Abdurahman al-Dachil, yang populer dipanggil Gus Dur mantan ketua PBNU dan Presiden ke-4.
Karya Wahid Hasim
Wahid Hasim adalah seorang penulis yang cukup produktif. Meskipun dia tidak menulis sebuah buku, berbagai artikel ditulisannya baik meyangkut masalah keagamaan, pendidikan maupun isu sosial politik. Tulisan-tulisnya dipublikasikan di berbagai majalah dan koran. Secara umum, tulisan Wahid Hasim dapat diklasifikasikan menjadi empat yakni pendidikan, politik, administrasi departemen agama, dan agama.
Dalam bidang pendidikan, Wahid Hasim memberikan perhatian terhadap reformasi pendidikan, misalnya pendidikan bagi anak, perkembangan kemampuan bahasa, pendidikan agama, termasuk di dalamnya pendirian perguruan tinggi agama, dan perlunya penggunaan rasio guna menyelesaikan masalah-masalah kekinian. Ia menulis juga sebuah artikel yang berjudul ‘’Abdullah Oebayd sebagai pendidikan’’ dalam artikelnya, dia menjelaskan bagaimana sebaiknya mendidik seorang anak, dia mengatakan bahwa anak-anak harus dilatih sejak dini untuk menggunakan segenap kemampuannya. Ini sangat penting untuk membiasakan mereka bersandar pada dan mengetahui kemampuan mereka sendiri. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dengan percaya diri dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita mereka.
Ia menumbuhkan rasa kebangsaan dengan mendorong anak bangsa untuk menggunakan bahasa Indonesia. Dalam artikelnya ‘’Kemajuan Bahasa, Berarti Kemajuan Bangsa’’ dia juga mengajak bangsa Indonesia menggunakannya sehari-hari dalam kehidupan. Artikel ini ditulis sebagai respon terhadap adanya kecenderungan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Belanda dan Inggris, dalam sehari-harinya. Ekspresinya ‘’good morning atau goeden morgen’’ lebih banyak terdengar dalam masyarakat dibandingkan ‘’selamat pagi’’.
Berdirinya perguruan tinggi agama, menurut Wahid Hasim, merupakan satu cara mencapai kemajuan. Ia menekan bahwa ilmu pengetahuan dapat dikembangkan dalam atmoster keterbukaan, tak dicampuri dengan doktrin agama dan politik. Dalam sambutannya, dia juga menambahkan bahwa perlu menjalin kerja sama antara perguruan tinggi lainnya, misalnya Sekolah Teologi, bahkan ia berharap adanya merger diantara perguruan tinggi tersebut.
Dalam artikelnya juga dituliskan ‘’Siapakah Jang Akan Menang dalam Pemilihan Umum Jang Akan Datang?’’ misalnya, Wahid Hasim secara terang-terangan mengkritiki partai-partai politik yang masih mengutamakan kepentingan indipidualisme keinginan (interest) golongannya di atas kepentingan Negara. Tujuh tahun setelah kemerdekaan, menurutnya tidak membuat Indonesia semakin bagus dalam beberapa aspek lebih buruk. Adanya situasi ini disebabkan partai politik tidak punya spirit untuk maju, tetapi sebaliknya mereka berebut untuk mendapatkan kursi, yakni mengamankan posisi mereka dalam pemerintah, meskipun tidak layak untuk mendudukinya. Wahid Hasim meminta agar partai politik menyadari kelemahan mereka, keluar dari pikiran yang sempit dan picik dan berjuang bagi kejayaan bangsa Indonesia secara umum.
Biografi Wahid Hasim, setidaknya menunjukan bahwa meskipun produk pesantren, dia adalah seorang yang berpikiran maju sebagaimana dibuktikan dengan keterlibatkan dalam berbagai organisasi sosial keagamaan dan politik. Keterlibatannya di NU, MIAI, dan Masyumi mengindikasikan komitmennya terhadap pendidikan, perjuang kemerdekaan dan perkembangan sebuah Negara Indonesia yang kuat.
Pembaharuan Pendidikan
Setelah terlibat dalam perpolitikan beberapa tahun khususnya pada masa Jepang perang kemerdekaan Wahid Hasim kembali berkiprah dalam dunia pendidikan yakni terlibat dalam upaya meningkatkan pendidikan Umat Islam pada awal tahun 50-an. Penunjukan Wahid Hasim sebagai mentri agama dalam tiga kabinet, yakni kabinet Hatta, Natsir dan Sukirman, secara terus menerus, menurut Dhofier, merupakan pristiwa penting dalam sejarah Indonesia khususnya dalam dunia pendidikan. Dia berargumentasi bahwa benar kementrian sudah ada sejak Kbinet Syahir, yang dibentuk pada tanggal 3 Januari 1946, akan tetapi disesbabakan belum amannya situasi pada waktu itu sampai adanya pengakuan kedaulatan Negara Indonesia pada bulan desember 1949, kementrian agama mempunyai peran yang berarti dalam sistem pemerintahaan Indonesia. Wahid Hasimlah yang memberikan peran yang berarti.
Diantara usahanya adalah memasukan pelajaran agama dalam kurikulum pendidikan nasional. Wahid Hasim menyadari bahwa sejak sisitem pendidikan nasional mengadopsi pelajaran sekuler, banyak hal yang hilang dari pendidikan terutama dalam yang berkaitan dengan nilai dan moral. Hal ini menjadi perhatiannya karena, sebagaimana disebutkan diatas pendidikan yang menjadi motor penggerak kemajuan Indonesia tidak hanya peroalan perkembangan akal atau badan dan keterampilan belaka, akan tetapi juga persoalan perkembangan spirit yang hanya dapat dicapai melalui pendidikan agama. Oleh karena itu, dia menekankan bahwa sistem pendidikan nasional harus memasukan pelajaran agama dan harus diberiakn secara seimbang dengan pelajaran umum. Perdebatan melalui apakan pelajaran agama harus diberikan disekolah pemerintah (negeri) atau tidak, akhirnya diakhiri dengan SK bersama antara kementrian agama dengan kementrian pendidikan yang menyatakan bahwa pelajran agama harus diberiakn sejak kelas 4 dan sekolah menengah selama 2 jam dalam seminggu. Berkat usaha Wahid Hasim-lah dalam kabinet, akhirnya pemerintahan mengeluarkan peraturan tertanggal 21 januari 1951, yang mewajibkan pelajaran agama harus diajarkan di sekoalah umum.
Untuk meningkatkan kualitas madrasah, Wahid Hasim mengusahakan adanya subsidi bagi madrasah swasta mulai level dasar, menengah pertama dan atas. Berkaitan dengan kurikulum, Wahid Hasim juga mengeluarkan peraturan mentri agama no. 3 tertanggal 11 Agustus 1950 yang mewajibkan adanya pelajaran umum diajarkan di madrasah.
Selama menjadi menrti agama, Wahid Hasim juga berinisiatif untuk mengembangkan sistem pendidikan yang sudah ada, misalnya didiriaknya PGA (Pendidikan Guru Agama) dan PTAIN (Perguruan Tinggi Islam Negeri). Wahid Hasim menyadari bahwa kebanyakan guru yang mengajar di madrasah adalah lulusan HIS atau hanya lulusan pesantern yang dianggap belum mampu mengemban tugas tersebut, oleh karena itu berdirnya PGA di setiap propinsi dan kemudian tiap kabupaten mempunyai arti yang sangat penting, sehingga guru-guru madrasah yang lululs PGA akan dilengkapi berbagai keterampilan proses belajar mengajar yang modern. Hal ini mempunyai damapak positif dalam membantu peningkatan kualitas lulusan madrasah.
Wahid Hasim juga mendirikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) pada tanggal 26 Desember 1951 di Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi 14 IAIN, satu IAIN ditiap 14 provinsi, menampung kurang lebih tiga puluh ribu mahasiswa, perkembangan IAIN masa tersebut sangat tergantung kepada perkembangan madrasah ataupun PGA yang ingin melanjutakan pendidikannya. Meskipun pembentukan perguruan tinggi tersebut, menurut Wahid Hasim, bertujuan untuk mencapi kemajuan dengan memberikan penekanan pada pengembangan atmosfir berfikir secara rasional, sayangnya dalam perkembangannya, institusi ini banyak menghadapi problem,khususnya kualitas pendidikannya.
Beberapa orang bisa jadi menyimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh Wahid Hasim menyebabkan adanya dualisme dalam sistem pendidikan Indonesia. Di satu sisi Departemen Pendidikan dan kebudayaan mengembangkan sistem pendidikan yang berorentasi kepada sistem barat, sedang disisi lain, yang lain, karena usaha Wahid Hasim, departemen agama menerapakan sistem pendidikan yang berorentasi pada institusi pesantren. Akan tetapi, pengambilan kesimpulan seperti itu menurut Dhofier, sama halnya menafikan fakta-fakta sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan. Sebagaimana dijelaskan diatas,belandalah yang mengenalkan sistem pendidikan barat yang menyebabkan adanya dikotomi pendidikan di tanah air. Apa yang di lakukan Wahid Hasim, dengan mendirikan dan mengembangkan madrasah,adalah upaya kompromi yang menjembatani dua sistem, sisitem barat dan sistem pesantren

Konsep Pendidikan Ibnu Khuldun


KATA PENGANTAR
Maha suci Allah, segala puji baginya, tiada Tuhan selain Dia. Dialah yang menabur hikmah benih-benih kehidupan. Dialah yang memiliki nama-nama indah, dan hanya dialah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW, teladan utama bagi manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Rasa syukur filhamdulillah dipanjatkan kehadirat-Nya yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Konsep Pendidikan Dalam Perspektif Ibnu Khaldun”.
Pada kesempatan ini penulis pergunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Dan penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya. Karena itu penulis menunggu saran dan kritik sebagai upaya perbaikan dan penyempurnaan untuk makalah selanjutnya.
Akhirnya kepada-Nya kami berharap, semoga makalah ini bermanfaat. Amin ya rabb alamin.
_____________________________________________________________

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG MASALAH
Dewasa ini dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan islam banyak diterpa masalah yang tak kunjung usai. Sedangkan tidak semua masalah dalam dunia pendidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata. Diantara masalah dalam dunia pendidikan sedikit banyaknya memerlukan pendekatan filosofis dalam pemecahannya. Analisis filsafat terhadap masalah-masalah tersebut diharapkan dapat menghasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah tersebut. Dari fenomina tersebut lahirlah apa yang dinamakan filsafat pendidikan islam. Uraian mengenai filsafat pendidikan islam diharapkan akan banyak memberikan gambaran dan kemudahan dalam memahami problematika dunia pendidikan islam. Munculnya filsafat pendidikan islam sebagai suatu ilmu baru adalah sebagai akibat adanya hubungan timbal balik antara filsafat dan pendidikan dalam islam untuk memecahkan dan menjawab masalah-masalah pendidikan islam secara filosofis.
Dalam kajian makalah tentang filsafat pendidikan islam penulis menghususkan pada konsep pendidikan dalam perspektif Ibnu Khaldun.
RUMUSAN MASALAH
• Bagaimana riwayat Ibnu Khaldun?
• Bagaimana konsep pendidikan islam menurut Ibnu Khaldun?
TUJUAN
• Untuk mengetahui riwayat hidup Ibnu Khaldun
• Untuk mengetahui konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun
BAB II
PEMBAHASAN
RIWAYAT SINGKAT HIDUP IBNU KHALDUN
Dunia mendaulatnya sebagai “bapak sosiologi islam”. sebagai salah satu seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buat pikirnya amat berpengaruh. sederet pemikir barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm, Friedrich Hegel, robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Lager Mengagumi pemikirannya.
Tak heran, pemikir arab, Nj Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, ilmuwan besar yang terlahir pada tanggal 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H di Tunisia. Oleh ayahnya ia diberi nama Abdur Rahman Abu Zayd Ibn Muhammad Ibn Khaldun.
Latar Belakang Pendidikan
Khaldun pertama kali menerima pendidikan langsung dari ayahnya, sejak kecil ia telah mempelajari tajwid, menghafal Al-Quran, dan fasih dalam qira’at al-sab’ah, di samping dengan ayahnya, ia juga mempelajari tafsir, hadits, fiqh (Maliki), gramatika bahasa arab, ilmu mantiq, dan filsafat dengan sejumlah ulama Andalusia dan Tunisia. pendidikan formalnya dilaluinya hanya sampai pada usia 17 tahun. dalam usia yang masih relatif muda ini ia telah mampu menguasai beberapa disiplin ilmu klasik, termasuk ‘ulum ‘aqliyah (ilmu-ilmu filsafat, tasawuf, dan metafisika). Di samping itu, Khaldun juga tertarik untuk mempelajari dan menggeluti ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. ketika usianya melewati 17 tahun ia kemudia belajar sendiri (otodidak), meneruskan apa yang telah diperolehnya pada masa pendidikan formal sebelumnya.
Karya – karyanya
Sebenarnya Ibnu Khaldun sudah memulai karirnya dalam bidang tulis menulis semenjak masa mudanya, tatkala ia masih menuntut ilmu pengetahuan, dan kemudian dilanjutkan ketika ia aktif dalam dunia politik dan pemerintahan. adapun hasil karya – karyanya yang terkenal diantaranya adalah:
Kitab Muqaddimah
Buku pertama dari kitab al-‘ibar yang terdiri dari bagian muqaddimah (pengantar). buku pengantar yang panjang inilah yang merupakan inti dari seluruh persoalan, dan buku ini juga yang mengangkat nama Ibnu Khaldun menjadi begitu harum. Adapun tema muqaddimah ini adalah gejala-gejala sosial dan sejarahnya.
Kitab Al-‘Ibar, Wa Diwan Al-Mubtada’ Wa Al-Khabar, Fi Ayyan Al-‘Arab Wa Al-‘Ajam Wa Al-‘Barbar, Wa Man Ashrumun Min Dzawi As-Sulthani Al-‘Akbar. (kitab pelajaran dan arsip sejarah zaman permulaan dan zaman akhir yang mencakup peristiwa politik mengenai orang-orang arab, non – arab, dan barbar, serta raja – raja besar yang semasa dengan mereka), yang kemudian terkenal dengan kitab ‘iba, yang terdiri dari tiga buku yaitu:
Buku pertama, kitab muqaddimah atau jilid pertama yang berisi tentang : masyarakat dan ciri-cirinya yang hakiki.
Buku kedua, terdiri dari empat jilid yaitu dari jilid kedua sampai jilid kelima, yang menguraikan tentang sejarah bangsa arab, genarasi – generasi serta dinasti – dinasti mereka.
Buku ketiga, terdiri dari dua jilid yaitu jilid keenam dan ketujua, yang berisi tentang sejarah bahasa Barbar dan Zanata yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi (Afrika utara)
Kitab al-ta’rif bi Ibnu Khaldun wa rihlatuhu syargon wa gharban atau disebut al-ta’rif, dan oleh orang – orang barat disebut dengan autobiografi, merupakan bagian terakhir dari kitab al-‘ibar yang berisi tentang beberapa bab mengenai Ibnu Khaldun.
KONSEP PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF IBNU KHALDUN
1. Pengertian dan tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun
Di dalam kitab muqaddimahnya Ibn Khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran – gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa:
“barang siapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terididik oleh zaman”
Maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan dengan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru – guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan memepelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa – peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkanya.
Dari pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan menurut Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan tidak hanya proses belajar mengajar, tetapi pendidikan adalah suatu proses, dimana manusia secara sadar menangkap, menyerap dan menghayati peristiwa – peristiwa alam sepanjang zaman.
Adapun tujuan pendidikan menurut Khaldun ada enam, yaitu:
Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan
Menyiapkan seseorang dari segi akhlak
Menyiapkan seseorang dari segi kemasyarakatan atau sosial
Menyiapkan seseorang dari segi vokasional atau pekerjaan
Menyiapkan seseorang dari segi pemikiran
Menyiapkan seseorang dari segi kesenia
2. Pandangan tentang manusia didik
Khaldun melihat manusia tidak terlalu menekankan pada segi kepribadiannya. Menurut Khaldun, manusia bukan merupakan produk nenek moyangnya. akan tetapi produk sejarah, lingkungan sosial, lingkungan alam, adat istiadat. karena itu, lingkungan sosial merupakan pemegang tanggung jawab dan sekaligus memberikan corak prilaku seorang manusia.
Pandangan Khaldun tentang manusia sebagai suatu makhluk yang berbeda dengan berbagai makhluk lainnya karena manusia mempunyai akal (Makhluk berfikir). Lewat kemampuan berfikirnya itu manusia tidak hanya membuat kehidupannya sehingga mampu melahirkan ilmu (Pengetahuan) dan teknologi, tetapi juga menaruh perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makan hidup. Proses – proses semacam ini yang melahirkan peradaban.
Pada bagian lain, Khaldun berpendapat bahwa dalam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia disamping harus sungguh – sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam – macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
3. Pandangan tentang ilmu atau materi pendidikan
Adapun pandangan mengenai materi pendidikan. Karena materi merupakan salah satu komponen operasional pendidikan, maka dalam hal ini Khaldun telah mengklasifikasikan ilmu pengetahuan yang banyak dipelajari manusia pada waktu itu menjadi dua macam, yiatu:
Ilmu Naqli (Traditional science)
Meliputi al-qur’an, hadits, ‘ulum al-qur’an, ‘ulum al-hadits, fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf dan ta’bir ru’ya.
Ilmu Aqli (Rational science)
Meliputi mantiq, fisika, matematika, kedokteran, pertanian, metafisika, geometri, al-jabar, musik dan astronomi.
Diantara ilmu tersebut ada yang harus diajarkan kepada anak didik, yaitu:
Ilmu syari’ah dengan semua jenisnya
Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ilmu ketuhanan
Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu bahasa, gramatika dan sebagainya.
Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantiq
4. Pandangan mengenai kurikulum
Sebelum membahas pandangan Khaldun mengenai kurikulum, perlu diketahui bahwa pengertian kurikulum pada zamannya berbeda dengan pengertian kurikulum masa kini (modern). Pengertian kurikulum pada masa Khaldun masih terbatas pada maklumat – maklumat dan pengetahuan yang dikemukaan oleh guru atau sekolah dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab – kitab tradisional yang tertentu, yang dikaji oleh murid dalam tiap tahap pendidikan. Sedangkan pengertian kurikulum modern telah mencakup konsep yang lebih luas yang di dalamnya mencakup konsep yang lebih luas, seperti tujuan pendidikan yang ingin dicapai, pengetahuan – pengetahuan, maklumat – maklumat, data kegiatan – kegiatan, pengalaman – pengalaman dari mana terbentuknya kurikulum itu, metode pengajaran serta bimbingan kepada murid, ditambah metode penilaian yang dipergunakan untuk mengukur kurikulum dan hasil proses pendidikan.
Sementara pemikiran Khaldun tentang kurikulum dapat dilihat dari epistimologinya. Menurutnya, ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat islam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: ilmu pengetahuan syari’at dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan syari’ah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekonstruksi kurikulum pendidikan islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.
5. Pandangan mengenai metode pendidikan
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang pendidik hendaknya mampu menggunakan metode mengajar yang efektif dan efisien. Dalam hal ini, Khaldun sebagaimana dikutip Scheleife mengemukakan enam prinsip utama yang perlu diperhatikan pendidik, yaitu:
Prinsip pembiasaan
Prinsip tadris (berangsur – angsur)
Prinsip pengenalan umum (generalistik)
Prinsip kontinuitas
Memperhatikan bakat dan kemampuan peserta didik
Para pendidikan hendaknya mengetahui kemampuan dan dara serap peserta didik. Kemampuan ini akan bermanfaat bagi menetapkan materi pendidik yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik.
Menghindari kekesaran dalam mengajar
Menurut khaldun, seseorang yang dahulunya diajarkan dengan cara kasar, keras dan cacian akan dapat mengakibatkan gangguan jiwa pada si anak, anak yang demikian cenderung menjadi pemalas dan pendusta, murung, dan tidak percaya diri serta berperangai busuk, mengemukakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang disebabkan ia merasa takut diperlakukan keras atau kasar.
Di dalam buku muqaddimahnya, Khaldun telah mencanangkan langkah – langkah pendidikan, yaitu:
Pertama, di dalam memberikan pengetahuan kepada anak didik, pendidik hendaknya memberikan problem – probelm pokok yang bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal anak didik.
Kedua, setelah pendidik memberikan problem – problem yang umum dari pengetahuan tadi, baru pendidik membahasnya lebih detail dan terperinci.
Ketiga, pada langkah ketiga ini pendidik menyampaikan pengetahuan kepada anak didik secara lebih terperinci dan menyeluruh, dan berusaha membahas semua persoalan bagaimanapun sulitnya agar anak didik memperoleh pemahaman yang sempurna.
Selain itu Khaldun juga menyebutkan keutamaan metode diskusi, karena dengan metode ini anak didik telah terlibat dalam mendidik dirinya sendiri dan mengasah otak, melatih untuk berbicara, menghidupkan kreativitas pikir anak, dapat memecahkan masalah, pandai menghargai pendapat orang lain dan percaya diri. Atau dengan kata lain metode ini dapat membuat anak didik berfikir reflektif dan inovatif. Khaldun juga menganjurkan metode peragaan, karena dengan metode ini proses pengajaran akan lebih efektif dan materi pelajaran akan lebih cepat ditangkap anak didik. Satu hal yang menunjukkan kematangan berfikir Khaldun yaitu prinsipnya yang menyatakan bahwa belajar bukan penghafalan di luar kepala, melainkan pemahaman, pembahasan dan kemampuan berdiskusi.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dalam kajian tentang konsep pendidikan dalam perspektif Ibnu Khaldun ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Yaitu sebagai ilmuan dan sejarawan, Khaldun telah banyak turut mewarnai pemikiran – pemikiran tentang pendidikan. Dia telah mencanangkan dasar – dasar dan sistem pendidikan yang patut diteladani baik di masa lalu maupun masa sekaran. Dari segi metode, materi, maupun kurikulum yang ditawarkan secara keseluruhan pantas untuk dikaji dan dicermati. Dia telah menyajikan pandangan – pandangannya dalam bentuk orientasi umum, sehigga dia mengatakan bahwa aktifitas pendidikan bukan semata – mata bersifat pemikiran dan perenungan, akan tetapi ia merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas insani, dan karenanya ia harus dinikmati oleh setiap makhluk sosial yang bernama manusia. Karena orientasi pendidikan menurut Khaldun adalah bagaimana bisa hidup bermasyarakat. Adapun metode yang ditawarkan Khaldun bersifat intelektualitas, dengan prinsip memberikan kemudahan – kemudahan bagi anak didik guna tercipta tujuan pendidikan yang hendak dicapai.
SARAN
Orang bijak mengatakan bahwa ” tak ada gading yang tak retak”. Tidak ada sesuatu di jagad raya ini yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Begitu pula dengan penyajian makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan. Penulis mengharapkan masukan – masukan yang berupa kritik dan saran konstruktif guna pembuatan makalah selanjutnya, sehingga penulis dapat membenahi sedikit demi sedikit kesalahan dan kekurangan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991
Nata Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997
Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta, Ciputat pers, 2002
________ , Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam, jakarta, Gaya Media Pratama, 2001
http://uinsuka.info/ejurnal/index.php?option=comcontent&task=view&id=100&itimed=52
http://zaldym.wordpress.com /2008/10/23/ibnu-khaldun-bapak- sosiologi-islam
http://www.republika.co.id/berita/34525/ibnu-khaldun-peletak-dasar-sosiologi-islam
http://www.republika.co.id/berita/34525/ibnu-khaldun-peletak-dasar-sosiologi-islam
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm., 171
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta, Ciputat pers, 2002), hlm., 91
http://zaldym.wordpress.com /2008/10/23/ibnu-khaldun-bapak- sosiologi-islam
http://uin-suka.info/ejurnal/index.php?option=com-content&task=view&id=100&itimed=52
Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Hlm., 93
Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 1991), hlm., 155
Nata, Filsafat Pendidikan, hlm., 175
Samsul Nizar, Dasar-dasar Pemikiran Pendidikan Islam (jakarta, Gaya Media Pratama, 2001), hlm., 22
Nata, Filsafat Pendidikan, hlm., 176

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons