Tampilkan postingan dengan label pengajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengajian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2011

Perbaikan Tauhid

Perbaikan Tauhid Untuk Keselamatan Dari Segala Bencana
Oleh : Dr.KH.Ahmad Hasyim Muzadi

Di dalam agama Islam, kata kunci dari tauhid adalah لا إله إلا الله. Formulasi kata-kata kalimat tauhid ini mengandung pengertian dan mengandung pengamalan.
Mengenai masalah pengertian, lafadz لا إله إلا الله ini artinya; لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ(Tidak ada yang patut dituhankan, kecuali Allah SWT). Kata مَعْبُوْدَ di sini mempunyai dua segi makna;
 Ma'bud artinya; disembah, karena ibadah itu artinya penyembahan. Dengan demikian, maka makna lafadz لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ adalah "Tidak ada yang boleh disembah kecuali Allah"
 Ma'bud artinya; menghamba, maka kata لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ bermakna; "Tidak boleh ada yang ditaati kecuali Allah".
Ini baru merupakan pemaknaan formulasi atau kaidah dalam kata-kata.
Kenapa lafadz لا إله إلا الله dimulai dengan kalimat negatif (نَفْيٌ). kenapa tidak langsung menggunakan kalimat itsbat atau affirmatif (إِثْبَاتْ), misalnya; الله إِلهٌ (Allah adalah Tuhan). Jadi, lafadz لا إله إلا الله itu meniadakan dulu (nafyu), baru ada keputusan (itsbat). Alasannya: Karena kalau seseorang dibiarkan memikirkan tuhan tanpa agama, maka tuhannya akan jatuh di luar Allah SWT. Misalnya; Menuhankan lautan, api, makhluk halus, angin, dsb. Biasanya yang disembah adalah gejala alam yang dianggap menakutkan atau dianggap menghidupi. Contoh yang dianggap menakutkan; Api, angin, badai, bencana, lesus, dll. Contoh yang dianggap menghidupi; padi, air, sehingga ada istilah Dewa Padi dan Dewa Air. Jadi, kalau seseorang dibiarkan mencari tuhan sendiri, maka akan jatuh menuhankan alam. Padahal, selain tuhan bukanlah tuhan, melainkan alam. Jadi hanya ada dua kategori, tuhan dan alam. Selain Allah SWT adalah alam. Tidak ada unsur kealaman di dalam Allah SWT dan tidak ada unsur ketuhanan di dalam alam.
Sekarang ini karena didikan agama yang kurang dan karena kegelisahan orang, maka tauhid ini mulai terganggu, sehingga mulai ada orang yang menuhankan kebutuhan, menuhankan alam, menuhankan alam ghaib, dan semacamnya, padahal sekalipun ghaib, posisinya masih tetap sebagai alam. Adapun faktor-faktor yang membuat tauhid kita terganggu antara lain:
 Pengertian tauhidnya memang tidak beres
 Godaan kebutuhan atau ada interest (mashlahiyyah).
 Kemiskinan atau ketidak-terjangkauan. Kemiskinan itu khusus menyangkut ekonomi, sedangkan ketidak-terjangkauan itu berarti seseorang ingin memaksakan sesuatu tapi gagal. Kemiskinan bisa menggoncang keimanan. Dalam Hadits disebutkan;
كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا
Kefakiran itu bisa mendorong orang menjadi kafir
Kafir di sini ada dua bagian, yaitu:
 Kafir Aqidah berarti keluar dari Islam. Seperti orang yang bunuh diri sekeluaga, bunuh diri itu keluar dari Islam.
 Kufur Nikmat berarti tidak bisa lagi bersyukur terhadap nikmat Allah SWT.
Demikianlah faktor-faktor pengganggu tauhid. Oleh karenanya, posisi tauhid kita harus diperkuat. Cara memperkuat tauhid kita adalah dengan cara memproses pengertian menjadi penghayatan. Jadi, bagaimana pengertian kita terhadap لا إله إلا الله diproses menjadi rasa terhadap lafadz لا إله إلا الله tersebut. Penghayatan itu berbeda dengan pengertian. Kalau pengertian itu semata-mata jalurnya adalah rasio, akan tetapi penghayatan merupakan kelanjutan rasio itu yang kemudian diterima oleh rasa.
Penghayatan ini dilakukan dalam ilmu tarikat (thariqat atau cara). Thariqat secara etimologis berarti; cara, sedangkan secara istilah bermakna; sistem untuk memproses orang menjadi semakin dekat kepada Allah SWT. Adapun tata caranya adalah:
Pertama; Harus melalui dzikir kepada Allah SWT. Jadi, lafadz لا إله إلا الله jangan digeletakno begitu saja. Setiap mengucapkan kalimat لا إله إلا الله, haruslah diucapkan dengan hati yang terbuka. Hal ini dimaksudkan agar pengertian itu masuk ke dalam hati dan dalam rasa. Sedangan yang dimasukkan ke dalam hati itu adalah makna dari formulasi kalimat لا إله إلا الله tersebut. Inilah letak perbedaan dzikir model Islam dengan semedi. Kalau dzikir itu mengucapkan dengan kata-kata, lalu dimengerti, selanjutnya kata-kata dan pengertian itu dihayati. Sedangkan kalau semedinya orang kebatinan itu mengangen-ngen (memikirkan) tuhan dan fenomena tanpa ada formulasi, sehingga tidak fokus dan rawan gangguan, baik gangguan deep Psikologi (gangguan kejiwaannya sendiri) ataupun gangguan makhluk halus. Dalam semedei yang diangen-angen itu tidak jelas. Mungkin yang keluar ketika semedi bisa berupa perasaan hatinya yang paling dalam, mungkin juga dia diganggu oleh syaitan atau jin, mungkin berupa halusinasi, dan mungkin juga ngawang tidak punya fokus pada apa yang disemedikan. Jadi, semedi itu tidak aman, baik prosesnya maupun hasilnya. Kalau menghayati kalimat لا إله إلا الله itu jelas. Yang tergolong makhluk halus terpotong atau tidak masuk hitungan dan hatinya juga tidak dituhankan, maka tauhid yang seperti ini adalah lebih aman.
Mulai sekarang kita harus mulai belajar dzikir. Dzikir itu modalnya adalah pengertian terhadap apa yang diucapkan dan konsentrasi (penggabungan semua potensi yang dimiliki oleh seseorang, baik berupa potensi hati, nafsu, ruh, maupun potensi akal. Semuanya diheningkan dan disatukan untuk memfokus pada satu titik yang diucapkan).
Membaca kalimat لا إله إلا الله dengan tenang akan lebih efektif dari pada banter dan banyak gerak. Karena yang diperlukan di sini bukan agitasi, melainkan kontemplasi (tarassukh/ peresapan / penghayatan). Ketika dzikir sudah masuk, maka akan membuahkan gerakan hati yang lebih stabil dan tertib. Di dalam Al-Qur'an disebutkan Ayat berikut ini;
اَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Ingatlah, dengan dzikir kepada Allah, hati-hati akan menjadi tenang
Kapan hati menjadi stabil? Yaitu ketika hati sudah tersentuh oleh dzikir. Kalau dzikir masih berhenti pada lisan, itu masih bagus dari pada tidak dzikir, namun hal itu masih belum bisa menghasilkan ketenangan. Nah, dari ucapan menuju pada ketenangan itu harus diproses dengan menghayati pengertian makna kalimat لا إله إلا الله tadi. Jadi, tauhid kita bisa ditingkatkan melalui tarassukh (penghayatan atau kontemplasi). Akan tetapi kemampuan kontemplasi kita ini masih rawan pengaruh, oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda:
أَلْإِيْمَانُ يَزْدَادُ وَيَنْقُصُ
Iman itu bisa bertambah dan berkurang
Posisi iman terletak di dalam hati, oleh karena itu, lingkungan hati harus diberi kondisi yang diridhai oleh Allah SWT, yaitu dengan cara memperbanyak membaca Al-Qur'an dan shalawat kepada Nabi SAW, makan makanan halal dan menata tingkah laku. Ini sudah menjadi latar belakangnya. Maka, dengan membaca Al-Qur'an, Shalawat dan ibadah, tauhid kita akan terjaga.
Sekarang ini tauhid ini dibahayakan (terancam) hampir dalam segala jurusan. Jurusan yang pertama adalah jurusan yang menjauhkan atau membikin manusia tidak lagi percaya pada kekuasaan Allah SWT. Karena orang-orang dalam keadaan miskin, merek mulai menuhankan uang. Sehingga bunyi teks Pancasila berubah menjadi; "Keuangan Yang Maha Kuasa", karena semua hal ujung-ujungnya adalah uang, bahkan idealisme sekalipun merupakan bagian dari uang, padahal seharusnya uang adalah bagian dari penegakan idealisme. Semua ini mengakibatkan kekufuran. Misalnya; Orang mempunyai sifat matrealistik, berarti dia percaya kepada tuhan secara simbolik, akan tetapi tidak secara faktual. Matrealisme inilah yang menjadi bencana terbesar abad ini terhadap tauhid kepada Allah SWT. Orang hanya mencari materi, matrealisme ini membuat orang hanya percaya kepada materi dan tidak percaya kepada immateri, dan perbuatan ini sudah termasuk kafir.
Gejala yang kedua yang membahayakan tauhid adalah gejala perlawanan terhadap patokan fundamental dari agama. Minggu lalu saya pergi ke NTB, di sana ada doktor perempuan yang mengatakan Al-Qur'an tidak perspektif terhadap persamaan gender. Menurut saya, memang benar bahwa gender itu harus dibela, akan tetapi kalau sudah melawan Al-Qur'an dan menganggapnya sebagai Kitab Suci yang tidak pas untuk mengatur gender, maka sikap itu adalah kufur, karena ada penentangan terhadap Al-Qur'an. Perbuatan ini kelihatan sepele, tapi sudah termasuk kafir menurut ASWAJA. Doktor perempuan itu secara sadar telah mengatakan Al-Qur'an sudah tidak cocok. Berjuang membela hak perempuan memang bagus, akan tetapi kalau dia sudah sampai berani mencaci Al-Qur'an maka dia sudah masuk pada daerah kufur, karena salah satu rukun iman adalah Iman Kepada Kitab Suci.
Contoh lain adalah masalah Poligami. Orang diperbolehkan untuk tidak suka pada poligami, kalau dia memang jujur. Kalau laki-laki tidak suka poligami, biasanya dia tidak jujur, karena laki-laki itu biasanya mempunyai sifat penggeragasan, bagian akomodasi, tampung sana tampung sini, alasannya adalah untuk kemanusiaan (humanitas). Bahwa orang tidak suka poligami itu boleh, begitu juga jika dia tidak suka dipologami. Akan tetapi tidak boleh malawan Al-Qur'an yang membolehkan poligami. Kalau diibaratkan, Al-Qur'an itu ibarat rumah, saya boleh tidak memilih kamar yang pertama, namun memilih kamar nomor dua. Begitu juga dengan Al-Qur'an yang memberikan pilihan antara poligami dan monogami. Kenapa laki-laki tidak poligami?, bisa jadi dia ndak laku lagi, nafsu besar tenaga kurang, atau "extra joss"-nya tidak meyakinkan. Namun antara monogami dan poligami itu sama-sama mempunyai syarat.
Jangan percaya kalau ada laki-laki kampanye anti-poligami. Anti-poligami berarti pro perselingkuhan. Kalau seseorang tidak berani poligami, dia tidak perlu mengatakan anti poligami. Saya sendiri memilih monogami, karena mau poligami tidak berani, bukan tidak mau, karena ilmunya belum dikuasai. Sehingga istri saya mesti wira-wiri, padahal rumah di Jakarta dan Malang ini seharusnya diisi satu-satu.
Sekarang ada gerakan anti poligami yang berarti sama dengan anti Al-Qur'an. Yang demikian ini tidak terasa dan terselubung, padahal sebenarnya merupakan ncaman terhadap tauhid kita, karena sebagian dari rukun iman adalah percaya pada Al-Qur'an.
Contoh lain adalah mengkritik Rasulullah SAW. Kalau seseoraang tidak mau menerima Hadist yang dinilai lemah itu tidak apa-apa, akan tetapi kalau sudah mengkritik in person (diri Rsulullah SAW), maka dua kalimat syahadat أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله menjadi batal. Para mahasiswa juga diskusi seenaknya saja dengan mengkritik Nabi Muhammad SAW. Yang begini ini adalah gangguan terselubung yang ujung-ujungnya merusak tauhid.
Yang paling banyak terjadi adalah tahayyul dan khurafat. Karena sudah tidak lagi mempunyai kemampuan secara rasional, maka manusia bertindak yang aneh-aneh. Misalnya; Lumpur Lapindo dilempari kambing, ya, tambah mbledos karena lumpurnya mangkel.
Adapun hubungan antara tauhid dengan pertolongan sosial kemasyarakatan adalah;
     .
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan
Dalam Ayat di atas Allah SWT memerintahkan kita supaya jangan sampai meminta tolong kepada selain Allah SWT. Minta tolong kepada manusia diperbolehkan, namun tidak boleh diyakini sebagai sumber pertolongan, melainkan sebagai perantara dari pertolongan Allah SWT. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak mempertuhankan makhluk, baik berupa manusia maupun barang atau benda. Misalnya; Keris itu ada yang mandi (punya kekuatan), biasanya ditempeli oleh jin atau yang lain. Keris itu cuma sarana, sedangkan prima causa-nya harus kepada Allah SWT. Akik kalau digosok metu butone. Dulu orang menggunakan akik, kalau dia meyakini sebagai sumber kekuatan, maka dia akan musyrik, namun kalau dia berkeyakinan bahwa Allah SWT telah memberikan kekuatan tertentu pada akik itu, maka dia tidak musyrik.
Setiap benda diberi kekushusan tersendiri. Misalnya; Kekuatan pohon pisang, kalau ada orang yang kebal senjata, coba pedang yang akan digunakan untuk menusuk orang itu ditempelkkan terlebih dulu pada pohon pisang, kemungkinan kekebalan orang itu akan jebol. Tanaman rawe yang membuat kulit menjadi gatal-gatal jika menginjaknya dan biasanya hidup di semak-semak, jika kita mematahkan batang pohon kelampis, kemudian memasukkannya ke dalam saku, maka kita tidak akan gatal ketika menginjak rawe tersebut. Saya mengatakan semua ini sebagai khasiat, karena kalau meyakininya sebagai kekuatan independen, maka bisa musyrik. Jadi, semuanya kembali kepada Allah SWT. Contoh lain adalah ular itu kalau dipukul dengan carang (bambu) yang kecil, akan lumpuh, meskipun ular itu besar bahkan bisa makan sapi. Cukup memukulnya dengan bambu kecil dan tidak usah keras asalkan tersentuh saja, ular itu akan lumpuh. Yang demikian ini disebut khasiat. Jadi jangan mempercayai suatu benda mempunyai kekuatan independen yang lepas dari kekuasaan Allah SWT.
Sekarang bukan hanya soal khurafat, namun juga soal perdukunan. Perdukunan itu sangat dekat dengan kemusyrikan. Kalau perdukunan itu menggunakan kekuatan dukun itu sendiri, berarti dia bohong. Kalau perdukunan itu ada buktinya, biasanya ada perewangan, kecuali yang bersifat ma'unah (pertolongan Allah SWT). Untuk membedakan antara perdukunan dengan ma'unah adalah lihat pada orangnya, Apakah dia ahli ibadah atau tidak?. Karena orang yang ahli ibadah itu tidak bisa dimasuki oleh black magic.

Sedangkan orang yang tidak ahli ibadah, maka baik white magic maupun black magic sama-sama bisa masuk pada diri orang itu. Oleh karena itu, meskipun kita sangat membutuhkan uang, jangan sampai pergi ke dukun, tapi pergi saja ke Kyai. Dan dilihat, apakah si kyai itu "mempunyai" partai atau tidak, karena kalau dia mempunyai partai, biasanya dia akan setengah kampanye.
Dengan menjalankan ibadah dan membac Al-Qur'an, kita akan dilindungi dari kekufuran. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Israa': 45
           • 
Dan apabila kamu membaca Al-Quran, niscaya kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,
Posisi orang yang membaca Al-Qur'an itu dilindungi dari pengaruh angin kekufuran. Saya berkali-kali menganjurkan agar kita jangan jauh-jauh dari Al-Qur'an, dengan demikian, Insya Allah, kita akan selamat, karena di sana ada junnah atau benteng yang membentengi kita dari kekufuran.
Di samping melakukan dzikir untuk ketenangan juga harus disertai kewaspadaan terhadap semua gangguan dan fenomena yang merusak tauhid. Hari ini, bencana masih berlanjut, longsor di kotanya SBY, yaitu Pacitan serta di Bondowoso. Saat ini orang sudah banyak melakukan istighatsah, akan tetapi nggak mandi, karena apa yang dia minta tidak selaras dengan apa yang dia lakukan. Misalnya; Meminta tidak banjir sambil membabat hutan, akhirnya do'anya tidak mustajab.
Saya pergi ke rumah seoraang Kyai, saya memohon kepada beliau: "Kyai, tolong Indonesia ini dido'akan, karena yang jatuh korban adalah orang-orang kecil, dan di antara mereka banyak orang NU atau orang Islam". Saya sungguh-sungguh minta kepada beliau, namun jawaban beliau terasa aneh, yaitu: "Saya ini mau saja mendo'akan, akan tetapi ada kekhawatiran dalam diri saya, kalau bencana ini dikurangi, apa orang-orang tidak malah sombong kepada Allah SWT!!. Karena bencana yang dahsyat ini masih belum membuat mereka sadar, bahwa semua bencana ini adalah hukuman, apalagi seandainya bencana ini dikurangi. Ada waktunya saya mendo'akan, sekalipun tidak sekarang". Akhirnya saya mikir-mikir, Indonesia ini memang aneh. Yang terus-terusan berdo'a, do'anya tidak mandi (mustajab), sedangkan yang do'anya mandi, belum mau mendo'akan, berarti keterlantaran suasana ini masih akan terjadi. Oleh karena itu, berhati-hatilah!, di tengah goncangan tauhid dan alam, kita harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah SWT di manapun kita berada, karena sudah tidak ada yang bisa menjamin keamanan kita, selain Allah SWT semata.

Menyongsong Kehidupan Ukhrawi dengan Qolbun Salim

Oleh : Dr.KH.Ahmad Hasyim Muzadi


Pada hari akhirat nanti, ketika kita menghadap Allah SWT, maka kita harus menyetorkan seluruh amal kita. Semua itu sudah terdeteksi dengan rapi dan baik, karena sudah ada memory dan file-nya masing-masing sehingga tidak akan keliru. Amal kita tidak akan tertikar dengan orang lain, karena semenjak di dunia kita sudah diberi identitas. Identitaf yang biasa dipakai adalah sidik jari, ternyata tidak ada sidik jari manusia yang sama.
Semua tindakan kita secara lahir dan bathin "dengan sendirinya" tercatat. Kalau dalam bahasa agama amal kita telah dicatat oleh Malaikat Raqib dan 'Atid. Dulu saya membayangkan betapa besarnya buku amalan kita nanti. Umpama semua perbuatan kita sejak kecil ditulis, tentu bukunya bisa setara dengan satu masjid. Itu adalah bayangan kita ketika masih bodoh. Sekarang ini di HP atau komputer, perangkat yang begitu kecil bisa menyimpan data yang begitu besar. Allah SWT berfirman di dalam al-quraan, bahwa besok jika kita sudah masuk di alam akhirat, dari tengkuk kita ini akan keluar buku. Buku itulah yang merupakan buku catatan amal kita.
Allah SWT berfirman dalam Surat Asy-Syu'araa' : 88-89
             
(yaitu) pada hari (di mana) harta dan anak-anak tidak lagi berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
Pada saat itu harta sudah tidak berguna, anak juga sudah tidak berguna. Karena harta itu hanya berguna di dunia saja, dan harta itu sendiri akan dibawa ke akhirat kalau harta itu diproses menjadi amal. Tapi selama harta masih berupa harta, maka harta itu tidak akan ikut kita. Anak-anak kita juga sudah tidak bisa mendo'akan kita lagi. Anak akan berguna secara maksimal kalau mereka memang mendo'akan kita dan mereka shalih hatinya. Adapun yang bisa diterima oleh Allah SWT adalah Qalbin Saliim (Hati yang selamat). Selamat dari syirik, kufur, dan selamat dari penentangan kepada Allah SWT, atau masalah-masalah yang menyangkut aqidah lainnya. Kalau menyangkut perkara amaliyah, maka ada hisabnya. Kalau menyangkut aqidah, maka sudah pasti ditolak, sebab bukan termasuk Qalbun Saliim.
Jadi ada dua hal yang perlu diperhatikan, bahwasanya di akhirat nanti ada posisi keimanan–keyakinan dan posisi amal baik-buruk. Oleh karenanya, orang-orang kafir tidak akan diterima amalnya sedangkan orang Islam yang berdosa akan dihitung dulu dosanya. Oleh karenanya, aqidah itu harus dijaga betul-betul agar tidak tertolak oleh allah SWT. Jadi yang dimaksud dengan Qalbun Salim adalah:
سَلِمَ مِنْ كُلِّ إِعْتِقَادٍ مُخْتَلِفٍ
Selamat dari semua keyakinan yang salah

Dan di dalam Hadits Rasulullah SAW disebutkan:
مَنْ كَانَ أَخِرُ كَلاَمِهِ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barang siapa akhir kalamnya adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, maka dia (pasti) masuk surga
Orang yang pada akhir hayatnya atau akhir ucapannya adalah kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ, maka dia akan masuk surga. Masuk surga ini tidak lantas masuk surga begitu saja, karena ada hak untuk masuk surga. Itulah makna Hadits di atas. "Karcis-nya" harus ngantri di loket amalnya. Tapi kalau Qalbun-nya tidak Saliim, maka tidak ada loket lagi baginya. Oleh karenanya, hati-hatilah dan jagalah aqidah. Orang yang tidak shalat itu berdosa, tapi orang yang berani mengatakan shalat itu tidak perlu adalah kafir. Orang yang tidak kawin itu rugi, setelah kawin baru merasa rug. Tapi orang yang menentang lembaga perkawian bahwa hidup tidak usah kawin, itu adalah kafir. Jadi, penentangan terhadap ajaran pokok itu kafur, kalau belum bisa melakukan ajaran pokok itu berarti dia berdosa. Saya ingatkan masalah ini, karena anak-anak muda sekarang ini sudah ndak karu-karuan. Karena ingin modern seperti Amerika, mereka berani bilang shalat tidak perlu. Kalau dia malas shalat, dia berdosa. Tapi kalau dia bilang shalat tidak perlu, berarti dia telah menghapuskan syari'at.
Sekarang ini ada yang namanya "ilmu dajjal" baru yang biasa disebut Hermeneutika. Agama dijujuk essensi dan tujuannya, tidak pada proses, bentuk, dan lakunya. Misalnya; Shalat dilakukan supaya hati menjadi tenang, sedangkan kalau sudah tenang tidak perlu shalat. Itu termasuk Hermeneutika. Zakat disyari'atkan karena orang tidak cukup makan, ketika rakyat sudah cukup makan, maka syari'at zakat tidak lagi diperlukan. Inilah yang saya katakan; "Orang yang menjalankan ibadah tidak boleh mengambil hikmahnya saja, karena belum tentu dia menduga hikmahnya itu benar dan belum tentu hikmahnya cuma yang dibicarakan itu saja. Shalat untuk ketenangan, tapi apakah shalat hanya untuk ketenangan hati saja? Tentu tidak.
Semua contoh tadi termasuk cakupan ilmu hermeneutika yang ujung-ujungnya adalah menuruti selera syahwat dan nafsu. Jadi, mereka mengukur sesuatu berdasarkan selera. Ilmu hermeneutika ini datang dari Yahudi. Sebenanya "penyakit" di dunia ini 50 % lebih berasal dari Yahudi, tapi kemajuan di dunia ini 50 % kurang sedikit juga berasal dari Yahudi. Hati-hatilah pada ajaran yang seperti itu.
Sehingga yang perlu kita jaga saat ini adalah Qalbun Salim. Dari Qalbun Salim inilah kita harapkan bisa muncul amal sholeh, kemudian amal shalih itulah yang kita bawa ke hadapan Allah SWT. Perlunya untuk apa? Perlunya adalah semua yang kalian punyai, proseslah menjadi amal, akhirnya bisa menjadi modal menghadap Allah SWT. pintar itu belum menjadi modal, pintar akan menjadi modal kalau sudah dijadikan amal, misalnya; kepintaran itu digunakan untuk belajar maupun mengajar. Belajar dan mengaja itu amal, tapi volume ilmu itu belum menjadi amal. Contoh lain: Mencari harta untuk makan itu adalah amal, tapi kalau kita terima masih berupa barang, berarti belum menjadi amal, kecuali kalau sudah ditasharufkan. Ada seorang sufi yang berkata: "Kalau kamu ingin membawa seluruh harta, maka lepaskanlah harta itu. Kalau kamu ingin meninggalkan harta itu, maka peganglah terus-menerus". Karena kalau kamu pegang terus-menerus akan menjadi harta waris pada anak-cucu, karena harta itu tidak mungkin dibawa ke alam kubur. Tapi kalau harta itu kamu tasharufkan, maka harta itu akan mengikuti kamu.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujuurat : 1
          •   •    
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Kamu jangan membawa harta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, karena harta itu bikinan Allah SWT, maka Allah tidak memerlukan harta, demikian juga dengan Rasul-Nya. Maka dari itu, jangan menyerahkan harta kepada-Nya, karena yang demikian itu adalah pekerjaan orang musyrik. Contoh: Beberapa hari yang lalu, Gunung Bromo dikabarkan akan meletus, lalu masyarakat berbondong-bondong membawa kambing, ayam, bebek, dsb. untuk dimasukkan di situ. Saya tanya, kenapa dicemplungno? Mereka menjawab: "Kita kirim kepada tuhan". Untuk apa tuhan kok makan bebek? Tuhan itu yang membuat ayam, maka Dia tidak memerlukan Ayam. Tuhan tidak memerlukan binatang qurban. Yang sampai kepada Allah SWT bukan daging qurban, melainkan patuh jika disuruh berqurban. Jadi yang dikirim adalah ketaatan.
Demikian juga dengan orang yang mencari ilmu, ada yang pintar, bodoh, atau terlalu bodoh. Tapi sekolahnya orang pintar maupun orang bodoh itu pahalanya sama, meskipun pintarnya tidak sama. Karena yang dihitung bukan kadar ilmu yang diperolah, melainkan ketaatannya untuk mencari ilmu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujuraat : 1
          •   •    
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Perhatikan! di sini ada aqidah, ada amal, dan ada niat. Adapun niat di sini adalah dengan jiwa Basmalah. Kalau Basmalah itu sampai di hati, maka akan terasa. Oleh karena itu, orang wiridan atau berdizkir dzikir itu tergantung pada qalbun-nya, apakah salim atau tidak. Jika saya dan kamu membaca kalimat لا إله إلا الله, hasilnya tidak sama dengan orang yang membaca kalimat itu dengan hati yang bersih. Orang yang dzikir dengan hati yang bersih itu ibarat cangkir, kalau dituangi air, air itu akan masuk; sedangkan kalau cangkirnya miring, maka air yang masuk hanya sedikit, dan kalau cangkir itu tengkurap, maka meski di sirami dengan terus menerus maka tetap tidak akan penuh. Maka dari itu, usahakan berdzikir dengan qalbuun salim (hati yang selamat).
Selanjutnya, qalbun salim, amal shalih dan niat tadi akan menghadapi yang namanya penyakit-penyakit hati dan Penyakit hati inilah yang akan mengganggu hati kita. Adapun kondisi hati (nafsu) kita ada beberapa macam:
1. Hati (Nafsu) Muthmainnah
Kondisi hati yang paling tinggi disebut dengan hati yang Muthmainnah sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Fajr : 27-30
 • •      •       • 
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, Masuklah ke dalam syurga-Ku.
Maksudnya: Hati yang Muthmainnah adalah hati yang tenang. Yang dimaksud di sini adalah qalbun salim. Berkenaan dengan Hati yang kembali kepada Allah SWT ini, dalam Surat Thaahaa : 55 disebutkan:
        
Dari bumi (tanah) Itulah kami menjadikan kamu dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain,
2. Hati (Nafsu) Lawwamah
Nafsu Lawwamah adalah hati yang mendapatkan gangguan, tapi masih pertolongan dari Allah saw. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qiyamah : 2
  •  
Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)
Ayat di atas dapat diartikan: Ojo njagakno hati yang Lawwamah.
Hati Lawwamah inilah yang pada umumnya kita miliki. Hati Lawwamah itu kadang ingat, kadang rajin ngaji, kadang nakal ndak leren-leren.
Kenapa hati disebut dengan qalbun? karena hati itu tidak pernah jelek. Hati itu molak-malik dan tidak pernah tetap; antara derita dan bahagia, antara senang dan benci, antara benci dan rindu. Orang itu kalau sedang rindu, pasti benci kalau tidak kunjung bertemu, tapi kebencian itu juga mengandung kerinduan. Kadang-kadang benci dan rindu menjadi satu, sehingga benci tetapi rindu. Padahal kalau benci mestinya tidak rindu dan kalau rindu mestinya tidak benci; inikan menurut otak kita, sedangkan hati kita tidak bisa begitu.
Hati Lawwamah itu diajak bagus mau dan diajak jelek juga mau. Adapun hati Muthmainnah itu kondisinya sudah mapan dan sulit untuk diajak jelek. Oleh karena itu, orang yang mempunyai hati Lawwamah mau diajak ngaji juga mau diajak dangdutan. Akhirnya dia menjadi panitia bermacam-macam kegiatan, misalnya: panitia Nuzulul Qur'an sekaligus panitia jaran kepang.

3. Hati (Nafsu) Ammarah
Kondisi hati yang berat adalah nafsu Ammarah. Nafsu Ammarah ini nafsu yang tidak ada keinginan untuk berbuat baik. Misalnya: Ketika mempunyai uang, dia tida ragu-ragu untuk mengeluarkan banyak uang untuk ngelencer dan dia tidak mau memberi uang kepada saudaranya yang sambat kurang makan. Hati Ammarah ini hati yang keras sebagaimana yang dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah : 74
          
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.
Demikian juga dalam Surat Al-Baqarah : 10 disebutkan:
             
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Jadi orang yang mempunyai nasfu Ammarah itu di dalam hatinya ada penyakit. Yang dimaksud penyakit hati di sini bukan liver, namun penyakit hati dalam arti spiritual.
Menurut Imam Ghozali RA, salah satu dari kekuasaan Allah SWT adalah keajaiban hati. Coba kamu pikir!, hati itu mempunyai tiga bagian: bagian kiri, kanan dan tengah. Rasa senang dan rasa sedih ada di situ, namun seumpama dicari oleh dokter, niscaya tidak akan ketemu. Perhatikan hubungan alam dzahir dengan alam ghaib dalam hati yang sungguh luar biasa itu. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Mukminuun : 14
    
. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.



Karena di dalam hati itu ada penyakitnya, maka Allah SWT menurunkan obatnya sebagaimana dalam Surat Yunus : 57
 ••   •          
Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Jadi, Allah SWT itu telah membuat segalanya. Allah SWT membuat hati, penyakit hati dan obatnya sekaligus.
Mau'idzah, Hudan dan Rahmat tadi ditujukan untuk orang-orang yang beriman. Kalau tidak beriman, maka tidak akan bisa memperolehnya. Bagaimana mungkin seseorang mau ada penyembuhan di dalam hati, padahal dia tidak beriman kepada Dzat yang mempunyai hati?.
Sekarang ada fenomena baru. Ada anak-anak yang nakal disembuhkan dengan ibadah; anak-anak yang terkena narkotika disembuhkan dengan ibadah. Namun hal itu bukan hanya milik orang Islam, karena orang Katholik juga mempunyai panti-panti penyembuhan seperti itu, hanya saja penyembuhan mereka hanya sampai pada tingkatan mau'idzah (terapi insaniyah). Kalau kita umat Islam ini sambung sampai pada tauhid, sedangkan mereka berhenti pada proses metabolisme spiritual.
Tidak hanya berkenaan dengan penyembuhan di atas, bahkan ilmu kebathinan dan ilmu kebal juga bisa dilakuan oleh orang-orang di luar Islam. Tetapi ilmu mereka menggantung, karena tidak sampai pada tauhid kepada Allah SWT. Yang demikian itu juga ada di dalam Islam, namun karena menggantung kepada Allah SWT. Sehingga ujung-ujungnya pasti kembali kepada Allah SWT, baik kepada mau'idzah, syifa', hudan maupun Rahmat-Nya.

Perbaikan Akhlaq

Memperbaiki Akhlaq
Oleh : Dr.KH.Ahmad Hasyim Muzadi
Untuk memperbaiki akhlaq ini tidak cukup hanya dengan ibadah dan do'a, tapi sekaligus harus disertai ketahanan terhadap godaan. Ketahanan terhadap godaan itu, buat kamu sangat berat, lebih berat dari pada godaan kepada saya. Saya paling-paling digoda uang, jabatan, dan lain-lain. Sedangkan kamu digoda kesenangan sehari-hari. Istilahnya di dalam agama; kamu semua digoda dengan Alaatul Malaahiy. Alaat itu instrumen, sedangkan Malahy berarti yang melupakan atau memabukkan. Jadi, Alaatul Malaahiy adalah alat yang memabukkan dan melupakan.
Memabukkan di sini artinya mengacaukan sistem rohani. Sebagaimana yang pernah saya sampaikan, bahwa sistem rohani yang terdiri dari ruh, rasio, rasa, dan nafsu itu harus sejalan dalam sinergi dan saling kontrol. Kalau sistem ini kacau, maka ada potensi untuk berbuat rusak. Nah, potensi berbuat rusak itu bertemu dengan lingkungan yang rusak dan pergaulan bebas, tentu sangat berat dihadapi. Saya ini tahu saja anak-anak kalau di Pondok kan alim-alim, tapi kalau naik sepeda motor di jalan itu suka gandengan. Belum lagi suasana bacaan dan pergaulan. Itu semua adalah instrument pemabukan dan pelupaan. Jadi saya tahu, hal itu memang berat. Oleh karenanya, orang seperti kamu jangan sampai punya uang yang terlalu banyak, karena lebihnya itu berpotensi untuk berbuat rusak. Anaknya orang-orang besar yang mondok di sini kan tidak kerasan, karena duitnya banyak, sehingga dia bisa membeli kesenangan-kesenangan yang "merusak". Jadi, untuk ketahanan luar dan dalam terhadap godaan pribadi, maka kamu harus sering membaca Surat Al-Falaq & Surat An-Naas. Supaya dalam dirimu ada medan pengaruh penjagaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Israa' : 45
           • 
Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup,
Kalau kamu membaca Al-Qur'an, maka Allah SWT akan mengirimkan sekat atau demarkasi antara dirimu dengan lingkungan orang-orang kafir. Kafir di sini tidak hanya kafir keyakinan, tapi juga kafir terhadap peraturan Allah SWT. Kafir itu secara bahasa bermakna ingkar. Yang dimaksud "kafir" di sini bermakna umum, yaitu meliputi pengaruh keyakinan, ideologi, kesenangan, alatul malaahy, dsb. Semua itu termasuk kekufuran pada bidangnya masing-masing.
Jika kamu membaca Al-Qur'an, maka kamu masih lumayan karena ada sekat atau ada benteng terhadap pengaruh negatif. Benteng ini kuat-kuatan, apakah kuat bentengnya ataukah kuat godaannya. Tapi selemah-lemah benteng, tentu masih lebih baik dari pada tidak ada benteng sama sekali. Tidak ada benteng atau netral itu lebih baik daripada dia sengaja memanggil bencana (godan) itu. Arek-arek itu ada kalanya mendambakan godaan. Yo opo kok suwe gak ono sms. Artinya orang yang seperti ini tidak membentengi diri, tetapi justru sedang menarik godaan masuk ke dalam dirinya. Padahal, dengan dibentengi saja, bisa jebol karena luapan dari kiri-kanan yang sangat besar. Dengan adanya benteng diri berarti ada saringan-saringan. Ibaratnya, sekalipun nantinya larat, tapi tidak sampai masuk jurang, paling-paling kesandung dan luka-luka. Nah, oleh karenanya, kalau kamu ada kesadaran terhadap adanya godaan ini, maka cepet-cepet baca Surat Al-Mu'awidzatain. Tetapi ada juga yang tidak mau membaca Surat ini, karena "takut" godaan tidak datang kepadanya. Itulah dimensi kedua, yaitu penjagaan akhlaq.

Resep Sehat Ala Rasul

oleh : Dr.KH.Ahmad Hasyim Muzadi
Mengingat Rasulullah adalah uswatun hasanah bagi kita, perlu diketahui bahwa beliau belum pernah terserang penyakit seperti kanker, asma, darah tinggi, dan lain sebagainya. Itu semua tidak lepas dari kehidupan sehari-hari beliau yang bersih dan selalu menjaga kesehatan. Rasulullah bersabdaألنَّظَافَةُ مِنَ اْلإيْمَانِ yang artinya adalah “ kebersihan itu termasuk sebagian dari iman ” kerena dengan hidup bersih akan menjadikan kita hidup sehat.
Dalam menjaga kesehatan ada beberapa resep kesehatan yang dilakukan oleh Rasulullah. Yang pertama adalah beliau selalu berdoa kepada Allah SWT untuk mandapatkan kesehatan. Seperti yang diceritakan ketika Shahabat Umar bertanya pada Raslullah SAW tentang kesehatan, beliau mejawab “ Berdoalah pada Allah, dan mintalah kesehatan pada-Nya”.
Salah satu doa Rasulullah tentang kesehatan adalah :
أَللَّهُمَّ عَافِنِي فِى بَدَنِي أَللَّهُمَّ عَافِنِي سَمْعِي أَللَّهُمَّ عَافِنِي بَصَرِي اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنَ اْلكُفْرِ وَالْفَقْرِ. أَللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ لاإِلهَ إِلا أَنْتَ
Yang artinya: “ Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah, sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, sesungguhnya hamba berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Ya allah hamba berlindung kepada-Mu dari siksa alam kubur, tiada Tuhan selain Engkau” ( H R Abu Daud )
Resep Rasulullah yang kedua dalam menjaga kesehatan adalah beliau selalu melakukan shalat malam tatkala orang lain sedang tidur. Di dalam al Quran disebutkan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُوْدًا. أللآية
Ayat ini menjelaskan bahwa di waktu malam hendaklah kita gunakan dengan shalat tahajjud atau shalat sunnah lainnya, karena dengan itu kita bisa mendapatkan maqam yang terpuji di sisi Allah SWT. Imam Turmudzi berkata bahwa melakukan shalat malam bisa membuat ketenangan di dalam hati, karena ketika kita banyak tidur, maka akan membuat peredaran darah kita tidak teratur, dan ketika kita melakukan shalat malam, maka kita akan mencoba melepas segala masalah kita dan memohon ketenangan pada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَي قَافِيَةِرَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ,يَضْرِبُ عَلَى كُلِّ عُقْدَةٍ. عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيْلٌ فَارْقُدْ. فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللهَ تَعَالَى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ. فَإِنْ تَوَضَّأَ اْنحَلَّتْ عُقْدَةٌ. فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقَدُهُ كُلُّهَا فَأَصْبَحَ نَشِيْطًا طَيْبَ النَّفْسِ. وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيْثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ.

Artinya: “ Ketika seseorang sedang tidur, syaitan akan mengikat ubun-ubun kepalanya dengan tiga ikatan. Sedangkan malam sangat panjang, maka bangunlah. Ketika dia bangun kemudian mengingat Allah maka satu ikatan akan lepas. Jika dia wudlu’ maka satu ikatan lagi akan lepas. Dan jika dia shalat maka lepaslah semua ikatan itu, dan ia akan memulai hari dengan semangat dan ceria. Namun jika tidak, maka ia akan memulai hari dengan malas dan tidak ceria”.
Hadis Rasulullah ini menjelaskan bahwa ketika kita tidur, maka syaitan akan membelenggu kita. Menurut Imam Turmudzi ketika kita tidur maka aliran darah kita akan tidak teratur dan dapat merobek pembuluh darah yang akan menyebabkan kita terserang penyakit darah tinggi. Maka rasulullah menganjurkan bagi kita untuk bangun malam dan melakukan shalat dan kita akan menghadapi hari esok dengan ceria..
Resep Rasulullah dalam menjaga kesehatan yang ketiga adalah beliau selalu bangun sebelum waktu shalat subuh tiba. Karena beliau mendapatkan ketenangan hati tatkala waktu subuh telah tiba dan beliau senang menghirup udara pada saat itu. karena udara pada pagi hari sebelum mega merah muncul sangatlah bagus untuk kesehatan.
Resep beliau dalam menjaga kesehatan yang keempat adalah beliau selalu melakukan jalan kaki ketika memenuhi hajatan. Ketika beliau pergi ke masjid, ke pasar, pergi melayat orang sakit, dan hajatan-hajatan lainnya beliau selalu dengan berjalan kaki. Dalam ilmu kedokteran memperbanyak jalan kaki sangatlah penting bagi kesehatan dan khususnya sangat bagus untuk jantung. Disebutkan bahwa manusia harus melakukan jalan kaki minimal tiga jam sehari. Mengapa? Karena jalan kaki sangatlah bagus bagi kesehatan kita dan peredaran darah kita akan lancar. Rasulullah sendiri selalu dengan jalan kaki tatkala memenuhi hajatannya.
Resep Rasulullah dalam menjaga kesehatan yang kelima adalah beliau makan hanya secukupnya, satu per tiga perutnya untuk makanan, satu pertiga lagi untuk minuman, dan satu pertiga isi perutnya diisi dengan udara untuk pernafasan.
Resep beliau yang selanjutnya adalah beliau selalu tawakkal ketika menghadapi masalah. Rasulullah SAW adalah seorang yang giat bekerja, beliau pernah bersabda “Wahai umatku bekerjalah sesuai dengan kemampuan kalian masing-masing, akupun juga bekerja”. Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang selalu memikirkan umatnya dan juga seorang komandan perang yang gagah. Hal ini menggambarkan bahwa beliau adalah orang yang giat bekerja dan tidak mengenal lelah.
Jika kita lihat dari sejarah kehidupan beliau, maka kita akan dapati bahwa di samping beliau rajin beribadah dan berdakwah, beliau juga tak lupa untuk bekerja keras. Dari sinilah terlihat bahwa beliau sangat sibuk sekali. Namun beliau tetap bisa menjaga kesehatannya dengan melaksanakan semua pekerjaannya dengan giat dan tawakkal kepada Allah SWT. Dalam Al Qur’an Surat At Thalaq ayat 3, Allah berfirman yang artinya “ Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi keperluannya ( memberi jalan keluar ) ”.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons