Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 September 2011

Tiket Menuju Kebahagiaan, Adakah?

Sawitri Supardi Sadarjoen, psikolog

Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu tentang: ”apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang berbahagia” daripada tahu tentang: ”mengapa kita tidak bahagia”.

Perasaan tidak bahagia sebenarnya adalah penyakit. Hal itu adalah bentuk dari upaya meracuni diri sendiri. Mari kita rawat penyakit itu dengan cara yang terjangkau. Kita cermati gejala penyakit tersebut dan kita hancurkan gejala itu.
Di bawah ini terdaftar hal-hal yang biasanya merupakan gejala yang meracuni kebahagiaan kita beserta antibodi yang dapat menghancurkan gejala penyakit ketidakbahagiaan kita.

Racun pertama: Menghindar
Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapat kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.

Antibodinya: Realitas.
Cara: Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustrasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

Racun kedua: Ketakutan
Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkawinan, kesulitan seksual.

Antibodinya: Keberanian.
Cara: Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.

Racun ketiga: Egoistis
Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.

Antibodinya: Bersikap sosial.
Cara: Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apa pun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

Racun keempat: Stagnasi
Gejalanya berhenti di satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.

Antibodinya: Ambisi.
Cara: Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

Racun kelima: Rasa rendah diri
Gejala: Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.

Antibodi: Keyakinan diri.
Cara: Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

Racun keenam: Narsistik
Gejala: Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.

Antibodi: Rendah hati.
Cara: Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan berbahagia. Hindari sikap ” sok tahu”. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

Racun ketujuh: Mengasihani diri
Gejala: Kebiasaan menarik perhatian, suasana hati yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.

Antibodi: Sublimasi.
Cara: Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimental dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.

Racun kedelapan: Sikap bermalas-malasan
Gejala: Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.

Antibodi: Kerja.
Cara: Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

Racun kesembilan: Sikap tidak toleran
Gejala: Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.

Antibodi: Kontrol diri.
Cara: Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.

Racun kesepuluh: Kebencian
Gejala: Keinginan balas dendam, kejam, bengis.

Antibodi: Cinta kasih.
Cara: Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.
Simpanlah paket tiket untuk melawan perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama saat kita sedang berada dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.

Senin, 18 April 2011

membntuk karakteristik pribadi

Membentuk Karakteristik Pribadi
Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang direktur mengenai mengubah karakteristik karyawannya. Mengubah karakteristik seseorang terlihat begitu sulit dan bahkan seakan-akan tidak bisa diubah. Karakteristik seseorang sepertinya sudah mendarah daging. Tentu saja seorang direktur atau pimpinan suatu perusahaan menginginkan orang-orang memiliki karakteristik tertentu agar bisa menjalankan bisnis dengan baik.

Betulkah kita tidak bisa mengubah karakteristik kita? Saya menjawab salah, kita sebenarnya bisa mengubah karakteristik kita yang sudah melekat. Mungkin tidak 100% berubah, meskipun itu mungkin terjadi, tetapi karakteristik bisa diubah menjadi karakteristik yang lebih baik meskpiun masih meninggalkan sebagian karakteristik Bukti nyata bahwa karateristik sesorang bisa diubah ialah dengan adanya agama. Agama ada untuk mengubah karakteristik manusia yang tidak lain adalah akhlaq. Jika karateristik seseorang tidak bisa diubah, buat apa agama turun, akan sia-sia belaka.

Lihatlah karakter lebut sahabat Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shidiq. Dengan Islam, beliau bisa berubah menjadi pribadi yang sangat tegas, berani berperang dan memerangi kebatilan yang dihadapinya. Tentu akan banyak sekali contoh-contoh nyata orang-orang yang berubah karakternya dengan agama. Kesimpulannya, Anda bisa mengubah karakteristik Anda dan orang-orang yang ada disekitar Anda jika Anda tahu caranya.

Karakteristik Pribadi Ideal
Karakteristik pribadi yang ideal ialah karakteristik yang diinginkan oleh pelanggannya. Jika Anda sudah mengidentifikasi siapa saja pelanggan Anda, sekarang mulailah mengidentifikasi apa saja karakteritik yang diinginkan oleh pelanggan Anda tersebut.

Mungkin Anda akan tercengang, ternyata cukup banyak. Jangan putus asa terlebih dahulu sebelum Anda memeriksa karateristik yang Anda miliki sekarang. Saya sakin Anda sudah memenuhi karakteristik yang diinginkan oleh pelanggan meskipun baru sebagian.

Sekarang, pilihlah karateristik yang belum Anda miliki atau sudah Anda miliki tetapi masih kurang memenuhi keinginan pelanggan. Kemudian, buatlah rencana untuk memperbaiki diri agar mencapai karakteristik yang diinginkan oleh pelanggan.

Bagaimana cara membentuk karakteristik pribadi? Saya sudah menulis banyak artikel tentang ini. Silahkan klik disini. Jika Anda bingung, cara membentuk karakteristik, pada dasarnya sama dengan membentuk sikap.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons